Langsung ke konten utama

HIV Bukan Akhir Segalanya, Awali Perjalanan Barumu Dengan ARV

HIV Bukan Akhir Segalanya
Re-design by Andini Harsono


“..Dia tidak akan menularimu. Dia tidak akan membuatmu ikut sakit, meskipun minum secangkir berdua dengannya..”


Kalimat itu masih terngiang di telingaku saat sang mentor memberiku pemahaman tentang bagaimana HIV Aids menular. Beberapa tahun silam, kami terlibat sebuah kampanye tentang HIV Aids di Monas. Pesertanya ya mereka yang terkena HIV Aids. Mentor saya menyemangati mereka untuk tidak berkecil hati bahwa HIV Aids bukan akhir dari segalanya. Dari sanalah saya melihat harapan-harapan yang terbersit dari sinar matanya. Hidup terus berjalan, HIV bukan suatu penghalang.

Hari Aids tahun ini saya kembali terlibat dalam sebuah kampanye. Kalau sekarang lebih sederhana. Saya bersama teman-teman blogger lain bergabung dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI tentang apa sih HIV Aids itu? Bagaimana cara penularannya?

Saya cuma mau bilang, HIV Aids tidak sekonyong-konyong menular. Dengan bersentuhan langsung bahkan ciuman sekalipun dengan dia, tidak akan menular. 

Penularan HIV hanya ada 4 cara yaitu 

- Melalui hubungan seks dengan yang telah terinfeksi HIV. Risiko semakin besar jika dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Nikmat sesaat tapi membawa kesakitan sis.
- Menggunakan jarum bersama yang terkontaminasi HIV seperti alat suntik, alat tindik, alat tato. Penggunaan jarum suntik juga dimaksudkan narkoba. Apa enaknya coba?
- Dari Ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dikandungnya. Penularan dapat terjadi selama kehamilan, saat melahirkan dan saat menyusui. Ini harus segera ditangani dengan pemeriksaan rutin.
- Melalui transfusi darah dan produk darah lainnya (yang terkontaminasi HIV), maka perlu pemeriksaan HIV pada darah donor sebelum didonorkan kepada yang membutuhkan.

Doc : Andini Harsono

Jadi kalau tetangga, teman, keluarga, saudara ada yang terinfeksi HIV jangan dikucilkan. Jangan juga digunjing seakan HIV ada penyakit kutukan yang tidak ada obatnya. HIV ada obatnya kok.

Hingga saat ini, obat yang telah ditemukan adalah Anti Retroviral (ARV) yaitu obat bagi ODHA untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah HIV dalam tubuh agar tidak terkena infeksi oportunistik sehingga ODHA dapat hidup sehat sama seperti orang yang tidak terinfeksi. ODHA tetap dapat produktif dan melanjutkan hidup seperti sediakala. 

Doc : blog.act.id


Bagaimana cara mengetahui seseorang terinfeksi HIV?

Dengan pemeriksaan darah atau tes HIV di layanan kesehatan yang menyediakan layanan tes HIV. Hanya melalui pemeriksaan darah seseorang diketahui terinfeksi HIV atau tidak.

Oya HIV dan Aids ada bedanya yaitu HIV itu virusnya sementara Aids adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan kumpulan gejala penyakit yang muncul akibat semakin lemahnya kekebalan tubuh. Terinfeksi HIV bukan selalu berarti kita telah jatuh sakit, menjadi Aids atau sekarat.

Seperti halnya diabetes, jantung dan penyakit kronis lainnya, HIV harus rutin minum obat setiap hari seumur hidup. Karena ARV ini bekerja sebagai pertahanan supaya virus HIV tidak bertambah banyak dan menimbulkan berbagai penyakit. Untuk itu, seseorang yang terinfeksi HIV butuh dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya agar tetap minum obat. 

Tidak ada yang tidak mungkin selama disiplin minum ARV. Selain itu, rutinlah berolahraga agar membuat tubuh lebih segar dan sehat. Bergabung bersama kelompok positif yang memberikan dukungan moral (HIV Survival), dan menikmati hidup dengan melakukan hal yang disukai adalah cara untuk mencegah kebosanan minum ARV.

Satu lagi, mindset untuk sembuh atau bertahan hidup harus ada di mereka yang terinfeksi HIV. Masih bisa melakukan kegiatan rutin setiap hari, bekerja, berkarya seperti yang tidak terinfeksi. Tugas kita orang-orang yang tidak terinfeksi untuk mendukung mereka. Kita juga harus mencegah terkena HIV dengan menjalankan gaya hidup sehat dan berpikir positif. Dengan berpikir positif maka kita akan melakukan hal positif yang akan melahirkan kebaikan. 

HIV bukan akhir segalanya dan HIV bukan penyakit kutukan. Mari bergandengan tangan untuk menyemangati mereka yang telah terinfeksi dan untuk pencegahan infeksi HIV. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BPOM Ajak Pelaku Usaha Mengedukasi Masyarakat Melalui Perka No. 31 Tahun 2018

Sebagai anak kos, saya sering mengonsumsi pangan olahan yang dibeli dari supermarket karena lebih praktis. Oleh karena itu saya tidak boleh lengah untuk tidak membaca label pada kemasannya, kapan tanggal kadaluarsa, kode produksi dan informasi gizi di dalam pangan tersebut. Kebanyakkan dari kita sering lupa untuk melakukan hal tersebut. Jangan karena beli di supermarket lalu kita menganggap enteng hal itu, biar bagaimanapun kita harus menjadi konsumen cerdas sebelum membeli.
Belum lama ini BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengeluarkan Perka Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang merupakan revisi dari peraturan terkait label pangan olahan yang sebelumnya diatur dalam Lampiran IV Peraturan Badan POM Nomor 27 tahun 2017 tentang Pendaftaran Pangan Olahan.
Kalau boleh saya rangkum isi Perka Nomor 31 tahun 2018 adalah sebagai berikut :
Harus tercantum label halal (apabila memang pangan tersebut halal). Label halal dapat dicantumkan sepanjang telah mendapat sertifikat halal …

Kenali dan Cegah Thalassemia Sedini Mungkin

Musim hujan telah tiba nih, sudah seharusnya kita meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan. Seperti biasa, musim hujan maka flu mudah menyerang. Belum nanti diare dan lain sebagainya. Konsumsi makanan bergizi seimbang, gerak badan alias olahraga, dan istirahat cukup adalah upaya pencegahan berbagai macam penyakit. Sebenarnya bukan hanya pada musim penghujan aja sih, kita harus setiap hari usaha menjaga pola hidup sehat.
Berbicara soal kesehatan tidak akan ada habisnya apalagi bicara soal penyakit. Nah, minggu lalu saya mengikuti seminar “Pengendalian Kanker dan Thalassemia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular khususnya kanker dan thalassemia. 
Tentang Thalassemia
Saya mau berbagi informasi tentang thalassemia dulu ya, karena bagi saya thalassemia masih asing diketahui. Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah merah yang diturunkan dari kedua orangtua kepada anak dan keturunannya. Penyakit ini disebabkan karena berkura…

Akhir Pekan Seru di Banten Lama

Entah mengapa sejak 2 bulan belakangan ini, saya ingin sekali menghabiskan waktu akhir pekan di Banten Lama. Sampai-sampai saya mengatakan hal ini ke beberapa kawan dan juga sepupu saya yang hobinya “ngulik tempat-tempat bersejarah.
Seakan alam tahu apa keinginan hati dengan keberuntungan saya bergabung dalam kegiatan “Pesona Cagar Budaya Indonesia, Banten Lama.” yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ya, tanggal 12-14 Oktober 2018 lalu saya explore Banten Lama.
Meskipun bukan kali pertama saya datang ke sini namun pesona Banten Lama tetap mencuri perhatian. Apa sih yang membuat saya ingin datang lagi ke Banten Lama? Cerita sejarah yang menjadi cagar budaya di tempat ini sungguh mengesankan. Banten dulunya sempat berjaya mengusai ekonomi nusantara dengan hasil rempah-rempah yang melimpah. Para pedagang dari India, Malaysia, Vietnam hingga Cina berbondong-bondong merapat di Pelabuhan Karangantu, Banten. Hi…