Langsung ke konten utama

Kecantikan Tenun Ulap Doyo Siap Mendunia

Tenun Ulap Doyo - Borneo Chic
(dok. Andini Harsono)


Sunge naan uteek, piaak aser ete toli
(sungai ada mata airnya, ayam berasal dari telur)
Artinya: Semuanya ada asal-usulnya.

Sesuai dengan peribahasa yang saya ambil dari suku Dayak Benuaq, bahwa semua yang ada di muka bumi ini pasti ada asal usulnya. Termasuk keragaman budaya bangsa Indonesia. Negara tercinta ini memiliki kekayaan luar biasa yang tidak semua Negara di dunia ini memilikinya. Kriya Indonesia merupakan kekayaan bangsa sekaligus warisan budaya luhur yang scara turun-temurun diajarkan kepada generasi penerus dengan sarat makna.

Pada dasarnya, Kriya Indonesia memiliki filosofi yang kuat dan sarat makna. Uniknya, masing-masing daerah memiliki ciri khasnya sendiri. Karena filosofi kuat tersebut proses pembuatannya pun terkadang memerlukan prosesi dan waktu yang spesial. Tidak semua orang bisa membuatnya. Alam Indonesia adalah rezeki tiada terkira nilainya. Produk-produk Kriya Indonesia menjadi identitas bangsa bahwa hasil dari alam maka sangat bersahabat dari alam. Salah satunya adalah tanaman doyo.

Tenun Ulap Doyo 

Tahukah kamu tanaman doyo itu berasal dari mana?

Tanaman yang tumbuh di lahan di pinggiran huta dan ladang di Tanjung Isuy, Kutai Barat, Kalimantan Timur ini disulap menjadi kain dan merupakan kain tradisional Suku Dayak Benuaq di Kutai Barat. Kain ini dibuat dengan teknik tenun ikat dan melalui proses pewarnaan membentuk ragam hias tertentu lalu ditenun menjadi lembaran kain. Ketika tanaman doyo sudah menjadi kain, maka namanya berubah menjadi Ulap Doyo yang berarti pakaian dari doyo (ulap=pakaian).

Serunya tanaman doyo hanya tumbuh di Tanjung Isuy dan Mancong, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kain tenun Ulap Doyo memiliki corak yang khas. Pembuatan Tenun Ulap Doyo memerlukan waktu sekitar 1 bulan dengan 20 tahapan. Saya pernah mencobanya, dan ternyata benar-benar sulit. Salut banget sama pengrajinnya. (angkat topi tinggi-tinggi :D)

Tanaman Doyo di Tanjung Isuy, Kutai Barat, Kalimatan Timur
(dok. dekranasda-kubar.org)


Tilita Renata, anak muda yang berhasil membawa kain tenun Ulap Doyo dan souvenir cantik lainnya yang berasal dari doyo ke seluruh Indonesia bahkan sudah ke beberapa Negara di ASEAN. Belum lama ini dia berhasil menaklukan pameran di pasar Malaysia dan Singapore dengan membawa ulap doyo sebagai perhatian baru dunia fashion. Pemenang utama lomba desain Batik Kubar ini mengaku sempat kewalahan dengan tingginya minat beli para pengunjung bahkan ada yang repeat order. Artinya Ulap Doyo memang unik dan memiliki daya tarik tersendiri. Tilita optimis, hasil karyanya dan pengrajin Ulap Doyo lainnya dapat diterima masyarakat dunia dan mampu mewakili ciri khas bangsa. Malam ini, Tilita berangkat ke Manila, Filipina untuk kembali memperkenalkan Ulap Doyo di mata dunia. Wahh sukses yaa Kaaakk... :)

Tilita Renata, Pengrajin Tenun Ulap Doyo
(dok. Borneo Chic)


Pesona Ulap Doyo, Pesona Borneo Chic

Tadi sore saya berhasil menembus kemacetan Jakarta untuk bersilaturahmi di acara Meet The Makers 12 yang bertempat di Nusa Gastronomy, Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Tahun lalu saya sudah sempat bersapa-sapa dengan para artisan di acara ini. Tapi kali ini konsepnya sungguh menambah feel Indonesianya. Pengaruh tempat, penataan display barang-barang yang ciamik, lighting dan keramahan para artisan membuat saya betah berlama-lama di sini.

Acara yang berlangsung dari tanggal 5-7 Oktober 2017 (dan saya baru sempat hadir pada saat hari terakhir) mengusung tema “Craft As Art” ini diikuti oleh 14 artisan. Karena saya tertarik dengan tenun Ulap Doyo maka saya ingin sedikit mengulas tentang Borneo Chic.

Produk Borneo Chic yang dipamerkan dalam Meet The Makers 12
(dok. Andini Harsono)

Sejak tahun lalu saya silaturahmi, nama Borneo Chic menjadi mudah sekali saya ingat. Entah kenapa. Giliran kenal lebih dekat, ternyata seru sekali bahan dasarnya (kain doyo tadi). Di tangan Borneo Chic, kain tenun Ulap Doyo menjadi lebih bernilai jual tinggi. Kualitas produk yang ketat dijaga, inovasi desain-desain yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, menjadi produk Borneo Chic laris di pasaran.

Borneo Chic yang juga sudah berpartisipasi dalam Asia Pacific Forestry Week Fashion Show, Pampanga, Philippines ini terus mempertahankan produk berkualitas ramah lingkungan. Karena bahan dasarnya berasal dari alam, maka harus ramah pada alam.

Selain Ulap Doyo, Borneo Chic juga mengambil barang-barang tradisional dari Kalimantan, seperti Anjat (sebuah keranjang rotan), Korit, Bemban, dan Tenun Sintang. Sejak 2011, Borneo Chic telah mendirikan galerinya di kawasan Kemang yang kita semua tahu, kawasan ini ramah dihuni para expatriate.

Selain Borneo Chic, ke-13 artisan lainnya adalah

Pekunden Pottery dari Jakarta, karya keramik sederhana sebagai bidang aplikasi corak pada permukaan keramik dengan teknik graffito. Studio Keramik Pekunden didirikan oleh keramikus senior Harriadi Mardoyo di tahun 1987, lalu diteruskan oleh Bregas Harrimardoyo, generasi kedua dari pekunden Pottery.

Brahma Tirta Sari dari Yogyakarta, karya batik dengan menyelaraskan keunggulan dan kearifan lokal antara tradisi dengan budaya masa kini.

Kanawida dari Tangerang, batik kontemporer dengan menggunakan bahan pewarna alami yang terbuat dari berbagai bagian tumbuhan seperti kulit atau daging buah. Batik Kanawida merupakan produk ramah lingkungan dengan pewarna alami yang mudah ditemui sehari-hari.

Tafean Pah dari NTT, tenun ikat khas NTT karya masyarakat Biboki memiliki ciri khas yaitu penggunaan benang dari kapas dihasilkan dari kebun sendiri serta penggunaan warna alami.

Marenggo Natural Dyes dari Yogyakarta, batik Marenggo memiliki corak yang khas didominasi warna coklat, biru dan merah yang natural. Para pengrajin batik Marenggo adalah ibu-ibu rumah tangga dan juga anak-anak muda sebagai regenerasi.

Omah Batik Sekar Turi dari Sleman, Endang Wilujeng mendirikan Omah Batik Sekar Turi di tengah kebun salak di Turi, Sleman sebagai upaya dirinya mengajak masyarakat sekitar untuk memiliki penghasilan tambahan. Dengan mempertahankan batik klasik, Endang tak lelah menyemangati masyarakat sekitar untuk terus berkarya.

Wiru dari Yogyakarta, corak kontemporer dan penuh warna menjadi ciri khas WIRU. Kreasi Caroline Rika Winata, seorang seniman tekstil yang begitu mencintai warna, pewarna, batik dan kain Indonesia. Karya yang dihasilkan sejak 2006 adalah syal, selendang, dan pakaian yang unik.

Cinta Bumi Artisan dari Bali-Sulawesi, kerajinan kain kulit kayu diangkat kembali dengan merangkul para pengrajin di Sulawesi Tengah agar keterampilan yang diwariskan secara turun temurun ini tetap hidup.

Tenun Molo – BIFE dari NTT, tenun molo tidak bisa dipisahkan dari perempuan NTT. Rumah Tenun BIFE mendukung pelestarian Tenun Molo menjadi karya inovatif yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mengangkatnya di tingkat nasional maupun internasional. Bife berarti perempuan yang dimaknai sebagai Ibu Bumi, penjaga alam dan pangan.

Gerai Nusantara – AMAN dari Jakarta, merupakan inisiatif usaha ekonomi yang dibangun oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam mempromosikan produk unggulan di lebih 40 komunitas adat di seluruh nusantara.

Savu dari NTT. Tenun ikat Savu sangat khas. Polanya halus dan sebagai identitas kelompok perempuan. Pulau Savu yang terletak di Kepulauan Sumba Kecil, NTT menjadikan tenun Savu adalah kartu identitas perempuan. Setiap pria yang ingin menikahinya harus dilihat dari corak tenun savunya agar tidak segaris dengan keturunan ibunya.

LAWE dari Yogyakarta, mengangkat lurik etnik yang identik dengan masyarakat kelas bawah disulap menjadi berbagai produk fashion, tas, dompet bahkan gelang yang modern. LAWE mengambil perempuan sebagai pengrajin dan penjahit yang berada di dekat House of LAWE agar mereka tetap bisa berbagi waktu dengan keluarganya.

Batik Rifayah dari Batang. Sudah pernah melihat seseorang membatik dengan bershalawat? Batik Rifayah yang tak lepas dari wujud ketaatan sekaligus merawat tradisi pembuatan batik sesuai ajaran Kyai Haji Rifai di masa lalu, merupakan kerajinan batik di Batang yang patut diapresiasi. Motif Batik Rifayah hanya tumbuh-tumbuhan, kalaupun ada corak binatang maka itu tidak dibuat keseluruhan tubuh karena dalam pakem Islam hal itu tidak diperbolehkan.

Meet The Makers 12
(dok. Andini Harsono)

Meet The Makers 12
(dok. Andini Harsono)

Meet The Makers 12
(dok. Andini Harsono)

Meet The Makers 12
(dok. Andini Harsono)

Meet The Makers 12
(dok. Andini Harsono)


Ajang Meet The Makers tentunya diharapkan mampu menarik perhatian generasi zaman now untuk terus melestarikan dan menggunakan Kriya Indonesia. Jangan hanya sebatas hadir, foto-foto, upload social media, lalu sudah, tanpa mau mengenal dari mana karya itu berasal. Karena semua ada asal usulnya, ada ceritanya dan itu merupakan warisan leluhur bangsa. Kalau bukan generasi zaman now siapa lagi yang akan mempertahankan kekayaan bangsa? Jadi mulai sekarang kamu bisa bilang, kamu gak gaul kalau belum pakai produk hasil Kriya Indonesia :)

Nyore bersama
(dok. Andini Harsono)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cegah Obesitas Dengan Pola Hidup Sehat

"Setengah dari porsi makanmu harus komposisi buah dan sayur." kata dr. Lily Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI yang selalu terngiang dalam telinga saya. Sejak itulah saya selalu berusaha menjalankannya setiap hari. Minimal konsumsi buah dan sayur menjadi menu wajib makan siang saya. Meskipun masih jauh dari ideal, namun saya berusaha mengubah pola hidup saya diawali dengan mengubah makanan yang saya makan.
Saya terlahir dari keluarga "besar" artinya gemuk-gemuk. Keluarga saya juga kompakan mengidap diabetes dan darah tinggi. Maka dari itu saya beresiko terkena penyakit tersebut. Salah satu penyebabnya karena berat badan yang berlebih akibat makan yang mungkin tidak terkontrol. Ditambah jarang berolahraga atau memang bawaan. Entahlah, yang jelas saya ingin mengubah pola hidup saya menjadi lebih sehat karena saya ingin menikmati hidup hingga 1000 tahun lamanya (maap lebay dikit hehe)
World Obesity Day p…

Jeda

"Sampai kapan di Bangkok?" tanyamu pada chat WhatsApp.
Tak langsung aku membalasnya karena aku sedang menemui beberapa kolegaku.
"Hari Senin minggu depan. Kenapa?" balasku 2 jam kemudian yang berujung tak dibalas lagi olehnya.
Hari berganti hari, tak kunjung kutemui balasan darinya bahkan tak juga kulihat update di Instagram Story-nya atau posting-nya pada Instagram. Padahal dia termasuk laki-laki yang aktif berbagi cerita di dunia maya. Ya, dia lebih kekinian dibandingkan aku.
Senin menjelang tengah malam aku tiba di Jakarta. Aku sapa dia kembali mengabarkan bahwa aku sudah di Jakarta tapi gak juga ada balasannya. Bahkan untuk dibaca aja gak.
Dia menghilang.. Gak biasanya dia semenghilang ini. Tapi siapalah aku. Tak mungkin telepon terus menerus, kirim pesan terus menerus. Siapalah aku?
"Hai. Aku baik-baik aja. Semua akan berlalu. Ini adalah jeda dalam hidupku. Ini akan segera berlalu." pesan singkatnya masuk pada WhatsApp-ku yang diakhiri dengan emotic…

Ibu dan Generasi Emas Indonesia

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2017 ini mengambil tema “Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga.” dengan harapan setiap keluarga di Indonesia menjadi barisan terdepan dalam memberikan perlindungan kepada anak, baik dalam hal pendidikan hingga memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsinya.


Hal ini seiring sejalan dengan adanya program pemerintah menuju Generasi Emas 2045 dimana diperlukan awareness dari orang tua (terutama Ibu) terhadap putra-putrinya. Menurut dr. Eni Gustina, MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Indonesia, Kementerian Kesehatan RI pada acara Diskusi Publik Dalam Rangka Memperingati Hari Anak Nasional "Pemenuhan Hak Kesehatan Anak untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045." yang diselenggarakan oleh Yayasan Adhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) beberapa waktu lalu bahwa anak Indonesia memiliki permasalahan gizi yaitu gizi kurang, kurus, pendek, obesitas. Untuk itu, Kementerian Kesehatan memiliki prioritas pembangunan kesehatan yaitu pengurangan kekurangan…