Langsung ke konten utama

Seandainya Tidak Ada Sampah di Monas

Re-post tahun 2010 sudah diterbitkan #halah

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama dengan teman saya mengunjungi Jantung Kota Jakarta yaitu Monumen Nasional ( Monas ). Kata orang sih malam - malam di Monas mengasyikan. Kita bisa melihat anak - anak kecil bermain dengan permainan yang dijual oleh para pedagang atau pengrajin di sekitar Monas, atau kita juga bisa menikmati suasana taman Monas yang asri, dan dihiasi oleh lampu - lampu malam yang semakin membuat meriah suasana. Kemudian penjual yang berlalu lalang tak kunjung - kunjung henti padahal katanya sudah banyak sat Pol PP yang mengejar - ngejar mereka, tapi ya mau bagaimana lagi? Mereka juga butuh makan kaliiii…:D Selain itu semua, yang bikin menarik lagi adalah orang pacaran disini widiih banyak banget sumpah?! hehe ( maaf bukan ngiri tapi cuma heran aja :D )

Begitu masuk ke pintu Monas, saya dan teman wanita saya ( lhoh?! ) langsung mendapat sambutan oleh para pria - pria yang gak pernah liat cewek - cewek kurang kerjaan yang malem - malem ke Monas kali ya, jadinya heboh deh tuh…Lalu tidak jauh dari situ, ada dua kelompok anak muda yang bermain sepak bola di halaman Monas. Saya dan teman saya itu berjalan minggir - minggir, nyelip - nyelip ke taman - tamannya takut ketendang atau kena bola. Tak lama selamatlah kami dari ancaman kena bola. Hufftt. Berjalan menuju Sang Emas, kami banyak melihat mobil - mobil jasa pelayanan buang air di pinggir jalan sekitar Monas. Lalu mulailah banyak pemandangan seperti yang sudah saya sebutkan diatas.

Kami berjalan mencari tukang kopi sekaligus mencari tempat duduk yang nyaman. Tapi, ada rasa sedih di hati kami, ketika kami melihat hiasan yang seharusnya tidak ada disini, yaitu sampah. Ya ampun, baik sampah basah maupun kering, bungkus permen, sampai bungkus mie instant ada disitu. Setiap langkah pasti ada nyelip sampah. Kami terus berjalan menyelusuri jalan pinggir Sang Emas. Akhirnya kita menemukan penjual kopi seorang ibu - ibu setengah baya yang ditemani anak perempuannya mengaku sedang ketar ketir ( khawatir ) karena ada Sat Pol PP yang tadi mengejarnya. Kamipun ikutan khawatir, tapi ya sudahlah. Kopipun diseduh dan kami berlalu. Berjalan menuju taman yang menghadap langsung ke Monas. Kami duduk di antara anak kecil yang sedang bermain layang - layang dan juga ada gangsing, bola plastik bahkan badminton…Waww..!!

Hmm saya melihat - lihat di sekitar saya, maklum baru pertama saya ke Monas di malam hari hehe…dan saya menemukan sekumpulan sampah yang sedang arisan, eh salah maksudnya sampah yang banyak di situ, padahal lokasi tempat sampah itu tidak jauh dari tempat saya duduk itu dan juga dari sekumpulan sampah itu. Kenapa sih orang - orang pada malas banget berdiri, berjalan dikit untuk buang sampah? Kalau makan aja gak pernah pada malas, nah kalau sampah? hmmm…alasannya, ‘kan ada pemulung yang mungutin mbak?’ Jiaahh pemulung sih pemulung, pemulung juga bisa kok mengambil sampah - sampah yang mereka butuhkan di tempat sampah, gak usah sok baik gitu deh…( maaf kesel saya ) Mending kalau sampah kering, nah ini yang dibuang bungkus mie instant yang masih ada isinya, lalu bekas kopi yang juga masih ada isinya, nah kan jorok, berceceran keinjek - injek anak - anak kecil di sana lalu dibawa kemana - man diseputaran taman, yang tadinya bisa di lihat indah dan hijau dengan rumput tekinya itu tapi sekarang jadi berubah warnah kuning, dan juga coklat atau hitam. Wadduuhh…!!!

Lalu saya dan teman saya itu asyik mengabadikan segala bentuk di Monas ini. Tapi sayang keterbatasan kamera Hp saya jadi membuat gambarnya aneh..:( Di sela - sela keasyikan saya menjepret - jepret Monas dan sekitarnya, mata saya terbelalak ketika ada seorang pria yang numpang lewat ketika saya ingin mengabadikan ibu penjual kopi yang berjualan di dekat mobil Toilet. Pria itu berjalan menuju tempat sampah itu dengan membawa tentengan kresek hitam. Lalu kepala saya berputar melihat dia. Ternyata dia membuang sampah pada tempatnya. Horeee…!!! Ternyata masih ada yang peduli dengan sampah. Aduh duh jadi kagum deh sama itu pria, jadi seksi diliat di mata saya. ( :D )

Hmm…seandainya ada 10 orang saja yang peduli dengan sampah di Monas, mungkin akan semakin menjadikan Monas indah dan nyaman untuk di kunjungi. Bukan hanya di Monas, tapi di kota Jakarta, dan kota - kota lainnya di Indonesia, pasti akan jadi indah banget. Saya yakin, pasti semakin menjadi daya tarik untuk turis mancanegara berkunjung kemari. Bukankah kota yang bebas dari sampah itu berarti kota yang bebas dari penyakit? :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BPOM Ajak Pelaku Usaha Mengedukasi Masyarakat Melalui Perka No. 31 Tahun 2018

Sebagai anak kos, saya sering mengonsumsi pangan olahan yang dibeli dari supermarket karena lebih praktis. Oleh karena itu saya tidak boleh lengah untuk tidak membaca label pada kemasannya, kapan tanggal kadaluarsa, kode produksi dan informasi gizi di dalam pangan tersebut. Kebanyakkan dari kita sering lupa untuk melakukan hal tersebut. Jangan karena beli di supermarket lalu kita menganggap enteng hal itu, biar bagaimanapun kita harus menjadi konsumen cerdas sebelum membeli.
Belum lama ini BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengeluarkan Perka Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang merupakan revisi dari peraturan terkait label pangan olahan yang sebelumnya diatur dalam Lampiran IV Peraturan Badan POM Nomor 27 tahun 2017 tentang Pendaftaran Pangan Olahan.
Kalau boleh saya rangkum isi Perka Nomor 31 tahun 2018 adalah sebagai berikut :
Harus tercantum label halal (apabila memang pangan tersebut halal). Label halal dapat dicantumkan sepanjang telah mendapat sertifikat halal …

Kenali dan Cegah Thalassemia Sedini Mungkin

Musim hujan telah tiba nih, sudah seharusnya kita meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan. Seperti biasa, musim hujan maka flu mudah menyerang. Belum nanti diare dan lain sebagainya. Konsumsi makanan bergizi seimbang, gerak badan alias olahraga, dan istirahat cukup adalah upaya pencegahan berbagai macam penyakit. Sebenarnya bukan hanya pada musim penghujan aja sih, kita harus setiap hari usaha menjaga pola hidup sehat.
Berbicara soal kesehatan tidak akan ada habisnya apalagi bicara soal penyakit. Nah, minggu lalu saya mengikuti seminar “Pengendalian Kanker dan Thalassemia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular khususnya kanker dan thalassemia. 
Tentang Thalassemia
Saya mau berbagi informasi tentang thalassemia dulu ya, karena bagi saya thalassemia masih asing diketahui. Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah merah yang diturunkan dari kedua orangtua kepada anak dan keturunannya. Penyakit ini disebabkan karena berkura…

Akhir Pekan Seru di Banten Lama

Entah mengapa sejak 2 bulan belakangan ini, saya ingin sekali menghabiskan waktu akhir pekan di Banten Lama. Sampai-sampai saya mengatakan hal ini ke beberapa kawan dan juga sepupu saya yang hobinya “ngulik tempat-tempat bersejarah.
Seakan alam tahu apa keinginan hati dengan keberuntungan saya bergabung dalam kegiatan “Pesona Cagar Budaya Indonesia, Banten Lama.” yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ya, tanggal 12-14 Oktober 2018 lalu saya explore Banten Lama.
Meskipun bukan kali pertama saya datang ke sini namun pesona Banten Lama tetap mencuri perhatian. Apa sih yang membuat saya ingin datang lagi ke Banten Lama? Cerita sejarah yang menjadi cagar budaya di tempat ini sungguh mengesankan. Banten dulunya sempat berjaya mengusai ekonomi nusantara dengan hasil rempah-rempah yang melimpah. Para pedagang dari India, Malaysia, Vietnam hingga Cina berbondong-bondong merapat di Pelabuhan Karangantu, Banten. Hi…