Berserah Bukan Menyerah : Bertumbuh Dengan Kesadaran
“Kalau memang sudah seharusnya begitu, segala rintangan akan lewaaatt..” ucap beliau pelan dan diakhiri dengan candaan khasnya.
Kalimat yang tersirat diantara obrolan kami beramai-ramai itu, menetap di kepalaku hingga kini. Pertengahan bulan Desember tahun 2025 lalu, saya mendapat rezeki berkesempatan mengikuti kegiatan volunteer di Demak, Jawa Tengah. Sudah tertanam lama dalam benak, saya ingin ke Demak meskipun sudah beberapa kali singgah di kota nan damai itu. Misinya adalah belajar lagi untuk lebih banyak berbagi kebaikan dalam berbagai bentuk, dan kali ini menjadi tim fasilitator literasi digital bersama Komunitas Bloggercrony.
Hari terakhir di Demak sebelum kembali ke Semarang, saya berkesempatan silaturahmi dengan seorang guru (Gus) di kediamannya. Sembari ngobrol panjang dan melibatkan banyak orang, ucapan beliau seakan memberi pesan tersirat kepada saya yang sedang gelisah memikirkan arah hidup, rencana yang belum rapi, dan langkah-langkah menuju tahun 2026 yang terasa penuh tanda tanya.
Pesan tersirat yang mungkin hanya saya saja yang menerimanya sebagai pesan reflektif menenangkan jiwa : bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dipaksa. Karena jika memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, maka ia akan menemukan jalannya sendiri.
Seperti kutipan oleh Sayyidina Umar bin Khattab, “Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”.
Hal ini mengajarkan kita untuk menerima takdir Allah, tidak khawatir akan kehilangan, serta terus berusaha dan bertawakal karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik. Selain itu, Umar bin Khattab mengajarkan bahwa segala urusan ditentukan ketetapan Allah, dan jika sesuatu ditakdirkan untukmu, ia pasti akan datang menemuimu.
Berserah Bukan Menyerah, Melangkah Kembali Dengan Percaya
Menjaga kesehatan mental tidak selalu tentang menemukan jawaban, kadang justru tentang keberanian berhenti sejenak dan mendengarkan diri sendiri. Di akhir tahun 2025, saya belajar bahwa berserah bukan berarti menyerah. Melalui perjalanan sepanjang tahun 2025, banyak pesan yang saya kumpulkan dan simpulkan. Perjalanan ke beberapa kota, pertemuan-pertemuan yang datang tanpa rencana, dan pesan-pesan tanpa sengaja tersirat dari obrolan tanpa pembahasan khusus. Semua itu menjadi jawaban bagi setiap kegelisahan yang sudah punya waktunya sendiri, dan setiap niat baik selalu menemukan jalannya, meski tidak selalu seperti yang kita bayangkan.
Berserah bukan berarti berhenti melangkah, apalagi mematikan niat baik yang sudah tumbuh. Dengan berserah, hati jadi lebih lapang dan semakin menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Saya kembali belajar bahwa tidak semua hal harus dipahami sekarang, tidak semua jawaban dari semua pertanyaan harus datang segera.
Ketika menyadari itu, ada rasa tenang dan kembali percaya bahwa Allah selalu menyediakan jalan terbaik. Meskipun kadang di luar kesadaran, sering kali melalui cara yang tidak pernah diduga, tapi selalu tepat waktunya.
Pada akhirnya, saya kembali dipahamkan pada hal penting bahwa setiap orang berjalan dengan ritmenya masing-masing. Bahkan ketika sedang bersama mendengar pesan yang sama, di waktu dan tempat yang sama, namun cara menerimanya bisa sangat berbeda. Perjalanan setiap orang juga berbeda. Sudah tertulis dan ditetapkan masing-masing. Tidak bisa menyamakan kita berada di ‘sepatu’ yang sama. Meskipun mungkin memiliki latar, luka, harapan, dan kesiapan tiap hati pun tidak pernah benar-benar sama.
Setiap pertemuan, setiap koneksi, selalu membawa pelajaran yang bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk saling melengkapi. Kita hanya perlu berjalan pada cerita masing-masing sambil tetap percaya bahwa apa yang dititipkan kepada kita tidak akan pernah salah alamat. Seperti kata Aa Gym, “Allah tidak akan meletakkan beban di pundak yang salah.”.
2026, Mari Bertumbuh Dengan Kesadaran
Sudah berada di tahun 2026, banyak harapan dan doa diutarakan. Namun, tetap percaya bahwa hidup bukan soal siapa yang lebih cepat berlari tapi siapa yang tetap setia pada cerita sendiri. Self-love, self-worth.
Berserah mengajarkan lagi untuk percaya tentang perjalanan hidup yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Selama masih bernafas, tetaplah menjadi baik, niat baik yang selalu dijaga, maka selalu ada jalan yang sudah disiapkan, pelan-pelan tapi pasti dengan cara-Nya yang menakjubkan.
Bertumbuh dengan kesadaran tentang semakin mengenal batas dan kemampuan diri sendiri. Tentang mendengarkan passion yang ada di dalam diri serta menjaga pikiran dan hati agar tetap berpihak pada kebaikan.
Pelan-pelan, perlahan bertumbuh membentuk pribadi yang lebih bijaksana dan lembut dalam menyikapi hidup. Apa pun situasi yang sedang dihadapi, izinkan ia menemani lengkap dengan rasa yang ditimbulkannya seperti sedih, bahagia, merana, kecewa, semangat, loyo dan lainnya. Karena tidak ada yang kekal di dunia ini, yang ada adalah kesempatan untuk hadir sepenuhnya agar kita dapat bertumbuh dengan kesadaran, hari demi hari.
Terima kasih telah membaca artikel ini, bahagia dan sejahtera selalu menyertai kita.



Komentar