Apa Yang Orang Ingat Setelah Bertemu Kita? Belajar Tentang The Power of Presence

 



Belajar tentang komunikasi selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi saya. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari cara berbicara, cara mendengarkan, bahasa tubuh, bahkan dari bagaimana kita hadir di hadapan orang lain. Karena itu, ketika mendapat kesempatan mengikuti workshop The Power of Presence: “Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication” bersama Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB), saya menyambutnya dengan antusias.

Workshop ini menghadirkan dua narasumber yang menurut saya memberikan perspektif menarik tentang bagaimana kita membangun kepercayaan diri dan personal branding di tengah dunia yang terus berubah. Keduanya adalah praktisi sekaligus akademisi dari LSPR, yaitu Latifa Ramonita, M.I.Kom. dan Dr. Elke Alexandrina, M.Sc.

Dari workshop tersebut, ada dua kalimat yang sampai sekarang masih saya ingat.

“Your digital footprint is part of your personal brand.” — Latifa Ramonita, M.I.Kom.

Dan :

“People may forget what you said. But they will always remember how you made them feel.” — Dr. Elke Alexandrina, M.Sc.

Dua kalimat sederhana, tetapi bagi saya punya makna yang cukup dalam.

Di era digital seperti sekarang, apa yang kita tinggalkan di ruang digital pada akhirnya menjadi bagian dari cerita tentang siapa diri kita. Tulisan yang kita bagikan, foto yang kita unggah, cara kita berinteraksi, bahkan hal-hal yang kita pilih untuk tidak bagikan, semuanya bisa membentuk persepsi orang terhadap diri kita. Jejak digital bukan lagi sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari personal branding yang kita bangun, secara sadar ataupun tidak.

Sementara dalam komunikasi secara langsung, ternyata bukan hanya kata-kata yang berbicara. Cara kita memandang seseorang, ekspresi wajah, gestur, intonasi, hingga energi yang kita bawa dalam sebuah percakapan juga ikut menyampaikan pesan. Bisa jadi orang lupa dengan kalimat yang pernah kita ucapkan, tetapi mereka mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berinteraksi dengan kita.

Dari sana saya kembali diingatkan bahwa kemampuan berkomunikasi bukan sesuatu yang selesai dipelajari. Ia terus berkembang mengikuti zaman, lingkungan, dan pengalaman kita. Apalagi ketika dunia profesional dan industri semakin kompetitif, kemampuan untuk menyampaikan gagasan, membangun relasi, dan menghadirkan diri dengan percaya diri menjadi bagian penting dari perjalanan kita.

Mungkin itu sebabnya saya selalu merasa tidak ada salahnya untuk terus belajar komunikasi. Karena bisa jadi, dari cara kita berbicara dan menghadirkan diri, ada banyak pintu dan peluang yang perlahan terbuka.

Semua Berawal dari Percaya Diri

Kalau berbicara tentang komunikasi, rasanya kita tidak bisa melewatkan satu hal yang menjadi fondasinya: percaya diri.

Tapi ternyata, percaya diri bukan tentang siapa yang paling lantang bersuara. Bukan juga tentang selalu tahu apa jawabannya, tidak pernah merasa gugup, atau harus terlihat sempurna setiap saat.

Bagi saya, penjelasan Ibu Latifa tentang kepercayaan diri justru terasa lebih sederhana sekaligus lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Percaya diri adalah ketika kita tahu apa yang ingin kita sampaikan, memahami kepada siapa kita berbicara, dan mampu hadir sepenuhnya dalam komunikasi yang sedang berlangsung, baik secara digital maupun secara langsung.

Ada tiga formula sederhana yang dibagikan Ibu Latifa:

Clarity + Preparation + Presence

Clarity — saya tahu apa yang ingin saya sampaikan.

Preparation — saya tahu kepada siapa saya berbicara.

Presence — saya hadir sepenuhnya ketika berkomunikasi.

Tiga hal ini terdengar sederhana, tetapi justru sering kali terlupakan. Kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang akan menilai kita, sampai lupa bahwa komunikasi sebenarnya dimulai dari pesan yang ingin kita sampaikan.

Apalagi sekarang, “berbicara di depan banyak orang” tidak selalu berarti berdiri di atas panggung. Ketika membuat konten di media sosial, menulis di blog, mengikuti meeting online, atau bahkan membagikan sebuah pemikiran melalui platform digital, sebenarnya kita juga sedang berkomunikasi dengan audiens.

Di sinilah saya mengenal konsep Confident Communication yang juga menarik untuk diterapkan dalam komunikasi digital :

Content — Apa pesan utama yang ingin saya sampaikan? 

Context — Siapa yang mendengarkan atau melihat pesan saya?

Connection — Mengapa mereka perlu peduli dengan apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membuat saya berpikir bahwa komunikasi yang baik ternyata bukan sekadar tentang “apa yang ingin saya katakan”, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut bisa sampai kepada orang yang tepat dan menciptakan hubungan dengan mereka.

Ketika berkomunikasi secara langsung, orang tidak hanya mendengarkan kita. Mereka juga melihat kita.

Bahasa tubuh menjadi bagian dari pesan yang kita sampaikan. Karena itu, kepercayaan diri juga bisa terlihat dari bagaimana kita membawa diri ketika berbicara.



Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

Eye Contact — melihat audiens, bukan lantai atau layar terus-menerus.

Posture — menegakkan tubuh dan menunjukkan kesiapan.

Voice — memperlambat tempo bicara dan memberikan jeda agar pesan lebih mudah diterima.

Facial Expression — membiarkan ekspresi wajah mendukung apa yang sedang disampaikan.

Gesture — menggunakan tangan secara natural, tanpa berlebihan.

Saya jadi teringat bahwa terkadang kita terlalu fokus pada “apa yang harus saya katakan?”, padahal cara kita mengatakannya juga memiliki kekuatan yang sama.

Dari sini, pembahasan kemudian membawa kami pada public speaking dan kekuatan storytelling. Dua hal yang menurut saya akan selalu relevan, terutama ketika komunikasi kini semakin banyak berlangsung di ruang digital.

Karena di media sosial, kita bukan hanya sedang berbagi informasi. Kita juga sedang membangun digital presence.

Kehadiran Kita di Ruang Digital

Digital presence tidak hanya dibentuk dari apa yang kita katakan. Ia juga terbentuk dari:

What you say — apa yang kita katakan.

What you show — apa yang kita tunjukkan.

What you share — apa yang kita bagikan.

How you engage — bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.

What people remember — apa yang akhirnya orang ingat tentang kita.

Semua itu, sedikit demi sedikit, membentuk reputasi dan meninggalkan jejak digital yang menggambarkan diri kita.

Dan mungkin inilah bagian yang paling saya suka dari pembahasan tentang presence. Kita tidak harus menjadi si paling percaya diri, si paling cantik, si paling terkenal, atau si paling sempurna untuk membangun kehadiran yang kuat.

Kita hanya perlu tahu apa yang ingin kita sampaikan, memiliki cerita autentik milik kita sendiri, lalu berani menunjukkannya secara konsisten.

Karena pada akhirnya, suara kita memiliki arti.

Dan mungkin, percaya diri bukan tentang membuat semua orang melihat kita.

Tetapi tentang berani hadir sebagai diri sendiri, tahu apa yang ingin kita sampaikan, dan percaya bahwa apa yang kita punya layak untuk didengar.

The Power of Presence: Ketika Kehadiran Bicara Lebih Banyak

Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Elke Alexandrina, M.Sc., yang semakin memperkuat pemahaman saya bahwa komunikasi tidak hanya terjadi melalui kata-kata. Bahkan sebelum kita mulai berbicara, sebenarnya kita sudah menyampaikan sesuatu melalui cara kita hadir.



Menariknya, hampir semua orang secara otomatis akan memperbaiki penampilannya ketika hendak bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Merapikan rambut, memastikan pakaian terlihat baik, bercermin sebentar, atau sekadar memastikan napas tetap segar. Kita melakukan semua itu karena, sadar atau tidak, kita memahami bahwa penampilan adalah bagian dari komunikasi.

Namun, kepercayaan diri tentu tidak berhenti pada apa yang kita kenakan.

Ia juga terlihat dari bagaimana kita membawa diri, bagaimana kita berkomunikasi, dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita membuat orang lain merasa ketika berada bersama kita.

Inilah yang kemudian disebut sebagai The Power of Presence.

Saya kembali teringat pada kalimat yang disampaikan Dr. Elke:

“People may forget what you said. But they will always remember how you made them feel.”

Mungkin kita tidak selalu mengingat percakapan dengan seseorang secara detail. Kita bisa lupa kalimat apa yang pernah ia ucapkan atau topik apa yang dibicarakan. Tetapi perasaan yang muncul setelah bertemu dengannya sering kali justru lebih membekas.

Apakah kita merasa dihargai?

Apakah kita merasa didengarkan?

Apakah kita merasa nyaman?

Atau justru merasa tidak dianggap?

Dr. Elke kemudian memperkenalkan sebuah formula sederhana:

Presence = Appearance + Attitude + Communication + Confidence

Artinya, presence terbentuk dari bagaimana penampilan kita, bagaimana sikap kita, bagaimana cara kita berkomunikasi, dan bagaimana kita membawa kepercayaan diri.

Bukan hanya tentang “bagaimana saya terlihat?”, tetapi juga tentang “bagaimana saya bersikap, berbicara, dan membuat orang lain merasa setelah bertemu dengan saya?”

Merawat Diri Sebagai Bentuk Penghargaan

Mengapa presence menjadi penting?

Karena kepercayaan sering kali mulai terbentuk sejak pertemuan pertama, bahkan dalam hitungan detik. Bukan berarti kesan pertama menentukan segalanya, tetapi bagaimana kita hadir pada momen pertama tentu akan memberikan gambaran awal tentang diri kita.

Di sinilah personal grooming menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari presence.

Bagi saya, personal grooming bukan tentang harus tampil mahal, mengikuti tren, atau terlihat sempurna. Lebih sederhana dari itu. Bagaimana kita merawat diri sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri sekaligus kepada orang lain yang akan berinteraksi dengan kita.

Ada tujuh elemen yang perlu diperhatikan:

Personal Hygiene — menjaga kebersihan tubuh, wangi, dan memastikan napas tetap segar.

Hair — rambut bersih, rapi, dan sesuai dengan konteks penampilan profesional. 

Face — wajah terlihat segar, natural, dengan ekspresi yang ramah.

Outfit — memilih pakaian yang sesuai dengan acara dan profesi, sekaligus nyaman digunakan.

Shoes — sepatu bersih, terawat, dan selaras dengan outfit.

Accessories — sederhana, tidak berlebihan, tetapi tetap mendukung penampilan.

Body Language — postur tubuh yang tegap, senyum, kontak mata, dan gesture yang positif.

Semuanya terdengar sederhana. Namun justru dari hal-hal kecil seperti inilah pesan tentang diri kita ikut terbentuk.



Presence Juga Tentang Cara Kita Berkomunikasi

Setelah penampilan, ada bagian lain yang tidak kalah penting, bagaimana kita berkomunikasi.

Beberapa aspek yang mendukung presence ternyata juga merupakan hal-hal yang sering kita lakukan setiap hari.

Voice. Berbicara dengan jelas, menggunakan volume yang cukup terdengar, dan tidak terburu-buru membuat pesan lebih mudah dipahami sekaligus membantu membangun kredibilitas.

Eye Contact. Menjaga kontak mata secara natural menunjukkan bahwa kita hadir dalam percakapan. Kita tidak terus-menerus menghindari tatapan lawan bicara, sehingga mereka merasa diperhatikan dan dihargai.

Smile. Senyum yang tulus dan ramah bisa menciptakan suasana yang lebih hangat. Terkadang sebuah senyum sederhana sudah cukup untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman membuka percakapan.

Active Listening. Mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraan, dan memberikan respons yang menunjukkan bahwa kita memahami apa yang disampaikan. Karena presence ternyata bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara, tetapi juga bagaimana kita membuat orang lain merasa didengar.

Positive Language. Memilih kata-kata yang berorientasi pada solusi dan optimisme. Bahasa yang positif tidak berarti selalu mengatakan sesuatu yang menyenangkan, tetapi bagaimana kita menyampaikan sesuatu dengan cara yang membangun kepercayaan dan menunjukkan profesionalisme.

Semakin saya mengikuti pembahasan ini, semakin saya merasa bahwa percaya diri ternyata bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia dibentuk dari banyak hal kecil yang kita lakukan berulang kali.

Dari cara kita merawat diri.

Dari cara kita mempersiapkan diri.

Dari cara kita berbicara.

Dari cara kita mendengarkan.

Dari cara kita memperlakukan orang lain.

Dan mungkin, inilah hal penting yang saya bawa pulang dari sesi Dr. Elke: kepercayaan diri tidak lahir begitu saja. Ia dibangun.

Dibangun melalui latihan, pengalaman, keberanian untuk mencoba, dan kesediaan untuk terus belajar.

Ketika kita terus merawatnya, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak peluang. Bukan karena kita tiba-tiba menjadi orang yang paling percaya diri di ruangan, tetapi karena kita semakin mampu menghadirkan diri dengan utuh dan meyakini bahwa kita punya sesuatu yang layak untuk dibagikan.

Hadir Dengan Utuh, Dimulai dari Merawat Diri

Setelah berbicara tentang penampilan, komunikasi, dan kepercayaan diri, ada satu hal yang rasanya tidak boleh dilupakan ketika membicarakan presence tubuh yang sehat.

Bagaimana kita bisa hadir dengan penuh energi jika tubuh sendiri tidak kita rawat?

Kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan produktivitas tentu membutuhkan tubuh yang sehat sebagai pendukungnya. Karena itu, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memikirkan apa yang terlihat dari luar. Apa yang kita masukkan ke dalam tubuh juga menjadi bagian penting dari bagaimana kita menjalani hari.



Di sesi bersama Nutrifood, kami kembali diingatkan tentang pentingnya memperhatikan “Isi Piringku” sebagai bagian dari upaya menjaga tubuh tetap sehat dan bugar. Makanan yang kita konsumsi bukan hanya menjadi sumber energi untuk beraktivitas, tetapi juga mendukung fungsi otak, konsentrasi, kreativitas, dan berbagai aktivitas yang kita lakukan setiap hari.

Buat saya yang sehari-hari banyak berkutat dengan ide, tulisan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas digital, kesehatan otak dan tubuh tentu menjadi bagian penting. Karena ide yang baik pun membutuhkan tubuh yang cukup energi untuk bisa diwujudkan.

Menjaga pola makan juga menjadi salah satu bentuk investasi untuk kesehatan jangka panjang. Salah satunya dengan memperhatikan asupan gula, garam, dan lemak, menjaga berat badan, serta rutin memeriksa gula darah sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko diabetes.

Ditambah dengan aktivitas fisik yang rutin, rasanya kita sedang memberikan kesempatan kepada tubuh untuk tetap kuat menemani berbagai rencana yang ingin kita jalankan.

Dan akhirnya saya menyadari, presence ternyata bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat di hadapan orang lain. Presence juga tentang bagaimana kita hadir untuk diri sendiri.

Merawat penampilan.

Merawat cara berkomunikasi.

Merawat kepercayaan diri.

Dan tentu saja, merawat tubuh yang setiap hari membawa kita menjalani kehidupan.

Workshop The Power of Presence hari itu menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Datang dengan niat belajar komunikasi, ternyata pulang membawa lebih banyak hal, perspektif baru tentang personal branding, pentingnya digital presence, cara membangun kepercayaan diri, sampai pengingat sederhana bahwa kesehatan juga merupakan bagian dari perjalanan kita untuk terus bertumbuh.

Bertempat di Nutrihub Jakarta yang nyaman untuk berbagai kegiatan workshop maupun acara komunitas, hari itu terasa seperti ruang belajar yang menyenangkan. Datang dengan hati senang, pulang dengan hati yang bahkan lebih senang karena membawa ilmu baru untuk di-upgrade dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin kita memang tidak harus menjadi versi diri yang paling sempurna.

Kita hanya perlu terus belajar menjadi versi diri yang lebih sadar, lebih siap, lebih sehat, dan lebih percaya diri.

Karena dunia akan terus berubah. Cara kita bekerja akan terus berkembang. Teknologi dan ruang digital akan terus bergerak. Dan di tengah semua itu, saya ingin tetap menjadi diri sendiri dengan karakter yang kuat, kemampuan yang terus diasah, dan keberanian untuk hadir dengan cerita saya sendiri.

Terima kasih Indonesian Social Blogpreneur (ISB) dan para narasumber untuk ruang belajar yang begitu berarti.

Datang untuk belajar komunikasi. Pulang membawa bekal untuk lebih berani hadir.

Appreciate it.




Komentar

Follow Me

Instagram : @andini_harsono Facebook : www.facebook.com/andiniharsono Twitter : @andiniharsono Blog lainnya : www.mainjalan.com Email : andiniharsono@gmail.com