Pesan Tak Terlupakan Ketika Di Bangkok dan Ayutthaya


“Travel is not reward for working, it’s education for living.” – Anthony Bourdain

 

Hmm saya sepakat bahwa setiap perjalanan memberikan banyak pelajaran dan pengalaman yang bermanfaat dalam hidup. Bagi yang punya hobi traveling saya yakin pasti pernah merasakan perjalanan yang wow banget. Bukan saja memberi pengalaman melihat tempat baru tapi juga mendapat pengalaman bertemu orang baru, kejadian baru, mencoba makanan baru (mungkin) dan banyak hal baru lainnya. Sebagian dari kita melakukan perjalanan merupakan bagian dari proses penyembuhan diri (healing) namun tidak semua perjalanan merupakan proses healing. 

 

Pada cerita kali ini saya tidak akan membahas soal perjalanan yang merupakan proses healing (bagi saya) tapi kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman unik yang mengandung pesan-pesan sponsor tentang kehidupan. Mungkin sebagian menganggapnya itu horror tapi bagi saya itu merupakan pengalaman spiritual dalam sebuah perjalanan.

 

Saya akan mencoba menceritakan kembali pengalaman ketika perjalanan ke Bangkok dan Ayutthaya. Beberapa kali mendapat rezeki perjalanan ke Bangkok, saya mendapat cerita yang berbeda. Entah kenapa Bangkok selalu memberi pengalaman mengesankan bagi saya. Padahal kalau dipikir-pikir Bangkok layaknya kota besar, padat penduduk dan wisatawan, panas bukan main dan isinya mall *senyumlebar. 


Baik, mari kita mulai.

 

Sambutan Luar Biasa Saat Songkran


Perjalanan ke Bangkok waktu itu bulan April 2018. Tanpa direncanakan, tanpa disengaja, dan bahkan tidak tahu bahwa tepat pada tanggal saya dan teman-teman berangkat ke sana itu waktu Songkran. Perayaan tahun baru tradisional masyarakat Thailand yang menjadi perayaan nasional bahkan international event. Artinya Thailand termasuk kota Bangkok menjadi sangat ramai karena ada perayaan ini. 

 

Waktu masih dalam pesawat, pramugarinya memberi info bahwa ada perayaan Songkran. Saya lantas wawancara pramugarinya untuk mencari detail bagaimana sih Songkran itu? Ternyata pesta air. Jadi di jalan-jalan banyak yang main air, saling semprot, saling siram dengan diiringi musik. Di kuil-kuil diadakan upacara dan menyucian benda-benda dalam kuil. Teman-teman saya penasaran dan tidak sabar ingin mengikuti Songkran.

 

Begitu sampai di Bangkok, kami langsung menuju hotel dan ternyata lokasi hotel kami merupakan salah satu pusat perayaan Songkran yaitu di daerah Khaosan Road. Pusat turis yang dekat dengan Istana Kerajaan. 

 

Sambil keluar mencari makan, kami mulai disemprot-semprot oleh penduduk sekitar dan juga turis. Tiba-tiba ada yang menghampiri saya dan mencoret muka saya dengan semacam bedak dingin. Saya tidak bisa mengelak karena kejadiannya cepat sekali. Agak-agak mengkhawatirkan yaa. Kami terus berjalan yang lama kelamaan seluruh baju jadi basah. 

 

Ketika sampai di tempat makan, penjualnya melihat muka saya yang dicoret sementara teman-teman saya tidak. Beliau seorang Ibu setengah baya tersenyum dan mengatakan “Tandanya kamu didoakan oleh orang yang mencoret wajahmu itu.” Saya kaget. Malam itu ditutup dengan pengalaman baru basah-basahan disiram air.

 

Keesokan harinya kami pergi ke Wat Pho. Salah satu kuil terbesar di Thailand. Ramai sekali orang. Ada upacara di kuil dan ibadah rutin di sana. Kami berpencar. Akhirnya saya jalan sendiri blusukan. Ada teman saya yang tidak kuat jadi dia menunggu di kantin. Cuaca memang panas luar biasa. Waktu itu mendekati 40 derajat. Nah, kalau teman-teman ingin ikut Songkran resikonya memang cuaca lagi cetar banget dan bawaan jadi banyak karena harus bawa baju cadangan setiap kali bepergian karena bisa jadi basah.

 

Bukan kali pertama saya mengunjungi Wat Pho. Namun kesempatan waktu itu saya beneran blusukan hingga ke beberapa ruang doa. Entah apa yang membuat saya masuk ke sana. Saya ikut duduk dan memperhatikan yang lagi pada berdoa. Rasanya tenang dan adem. Saya memejamkan mata dan tiba-tiba ada yang berbisik “Thank you Din.” Saya auto buka mata dan OMG siapa itu? Karena sebelah kanan kiri depan belakang saya tidak ada orang. Ok baik.

 

Puas berkeliling saatnya kami kembali ke penginapan untuk check out. Kami memutuskan pindah hotel ke tengah kota karena lebih dekat dengan pusat perbelanjaan. Kalau jalan-jalan ke Bangkok gak belanja tuh rasanya kurang besti *nyengir. 

 

Kira-kira pukul 4 sore kami tiba di hotel berikutnya. Setelah check in kami menuju lift. Kami melewati patung besar. Teman-teman sudah lewat dan saya paling akhir. Saya melihat patung besar itu ada 2 dan salah satunya menangkupkan kedua tangan sambil berkata “Sawaadheekaapp.” Saya auto membalasnya. Teman saya nengok dan nanya, “Sawaadheekaa sama siapa lu Din?”. Waktu nengok lagi ke patung ternyata cuma ada 1 dan ya namanya patung mah diem aja. Ya udahlah yaa.

 

Kami melanjutkan liburan di Bangkok dengan riang gembira. Tapi memang yang paling sering disiram air tuh saya. Kemudian saya membaca-baca cari tahu soal Songkran dan konon katanya jika kita disiram air oleh orang lain maka tandanya kita didoakan oleh orang tersebut maka sebaiknya kita siram balik yang berarti kita mendoakan dia juga. Air tersebut juga menyimbolkan keberkahan. Apapun itu artinya, perayaan Songkran waktu itu benar-benar memberi kesan yang tak terlupakan. Di tengah cuaca Bangkok yang super duper panas, saya merasa kesejukan dalam hati. Air yang disiram atau disemprotkan ke saya, dinginnya sampai ke hati *tsahelah.

 

Pesan Baik di Wat Maha That Ayutthaya

 

Pengalaman ini ketika saya terpanggil untuk explore kota Ayutthaya pada perjalanan Bangkok awal Agustus 2023 lalu. Saya dan ketiga teman saya bersama menuju kota tua penuh sejarah itu. Ternyata biaya ke sananya tuh murah banget. Menggunakan kereta api ekonomi yang beneran keretanya jadul gitu hehe. Kursi tegak berhadapan, jendela dibuka semua, kipas angin, tanpa nomor kursi dan pedagang boleh masuk. Cuaca panas membuat saya lelah sehingga tertidur dalam kondisi duduk tegak. Kepala saya berulang kali kebentur termos pedagang es, kebentur tempat makanan pedagang kue, kebentur tas penumpang lain yang lalu lalang, udahlah pokoknya tidur dengan tantangan luar biasa tapi anehnya saya tetep tidur.




Sampai di tempat, buset panas bener. Uniknya saya dan teman-teman kok yaa tahan jalan kaki berkilo-kilo untuk mencari makan yang halal dan ternyata letaknya sudah dekat dengan tujuan kami. Ayutthaya yang merupakan dulunya Ibukota Kerajaan Siam ini maka banyak sekali candi dan bangunan kuno. Wow saya suka saya suka hehe. Jadi begitu menginjakan kaki ke sini berasa dibawa ke 1000an tahun lalu. Cerita lengkap tentang perjalanan ke Ayutthaya sudah ada yaa di blog saya mainjalan.com.

 

Setelah selesai makan siang, kami lanjut jalan kaki dan masuk ke Wat Maha That. Matahari seperti ada 5, panasnya cetar sekali gaes. Kami berpencar. Saya bersama 2 teman lain (cewek-cewek) sementara 1 cowok dia blusukan sendiri. Begitu melewati pintu masuk, saya menuju ke papan informasi yang menceritakan Wat Maha That. Lalu saya berasa disamperin 2 orang biksu. Tapi saya sadar itu tidak ada. Intinya mereka menyambut dan mempersilakan masuk. Berkeliling seperti layaknya turis, kami mengabadikan momen dengan berfoto dan take video di setiap bangunan Candi. Hingga sampailah di salah satu bangunan Candi yang masih utuh. Di sana saya mendapat pesan sponsor bahwa “Gak akan salah waktu Din. Apapun yang kamu harapkan, semua udah ada waktunya.” Saya terdiam dan merenung sejenak. Iya juga sih, kalau memang belum waktunya mau dipaksain gimana pun ya memang belum terjadi. Antara memang belum waktunya, atau memang bukan untuk kita. 

 

Di momen ini saya diingatkan untuk sepenuhnya kembali berserah bukan menyerah. Menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. OMG terima kasiiihh.

 

Menjelang kembali ke Bangkok, tiba-tiba hujan gerimis. Saya mengucapkan terima kasih atas pengalaman berharganya dan kelak semoga diberikan rezeki untuk kembali ke Ayutthaya.

 

Itulah 2 cerita pengalaman unik saya ketika MainJalan ke Bangkok dan Ayutthaya. Apa yang saya alami belum tentu dialami juga oleh orang lain. Saya menyikapinya dengan positif dan merasa bersyukur diberi cerita baru, pengalaman baru dan pesan-pesan positif yang membangun diri saya. Sebuah pengalaman perjalanan luar biasa yang berpengaruh pada pertumbuhan jiwa saya. Belakangan ini saya tergerak untuk menceritakannya dalam sebuah artikel dengan cerita yang saya pilih, saya kurasi yang sekiranya memang pesannya bisa untuk dibagikan. 

 

Saya berharap teman-teman yang membaca cerita ini mendapat insight baru, memberi ruang pemikiran lebih luas, dan dapat memfilter mana yang baik dan kurang. Saya tidak memaksakan apa yang saya alami untuk dipercaya sepenuhnya, saya hanya ingin berbagi. Semoga bermanfaat dan memberi semangat. Terima kasih telah sudi membaca cerita ini, mohon maaf atas segala hal yang kurang berkenan.

Komentar

Postingan Populer

Follow Me

Instagram : @andini_harsono Facebook : www.facebook.com/andiniharsono Twitter : @andiniharsono Blog lainnya : www.mainjalan.com Email : andiniharsono@gmail.com