Langsung ke konten utama

Potensi Pelanggaran Hak Anak di Masa Pandemi

 



Pandemi masih belum berlalu. Berbagai persoalan dihadapi semua orang di seluruh dunia, termasuk bangsa ini. Indonesia menjadi salah satu Negara yang terdampak Covid-19 diberbagai sektor. Kesehatan, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan. Persoalan ini bukan hanya dihadapi oleh orang dewasa namun juga anak-anak.

 

Data dari Kementerian Sosial RI menyebutkan ada 11.045 menjadi yatim piatu, atau yatim, atau piatu karena orang tuanya meninggal Covid-19. Anak-anak merupakan korban tersembunyi Covid-19 yang selama ini tidak diperhitungkan. Selain dampak psikis, kehilangan orang tua secara tiba-tiba berdampak pada kesehatan dan pemenuhan gizi anak.

 

Anak-anak juga kemungkinan akan kehilangan hak-haknya sebagai anak. Ketidaksiapan kondisi ini membutuhkan perhatian khusus, karena persoalan ini serius.

 

Kalau bicara soal hak anak, ada 10 hak anak menurut konvensi hak anak PBB (1989) yang harus dipenuhi oleh orang tua, diantaranya :

 

Hak untuk bermain

Hak untuk mendapatkan pendidikan

Hak untuk mendapatkan perlindungan

Hak untuk mendapatkan nama atau identitas

Hak untuk mendapatkan status kebangsaan

Hak untuk mendapatkan makanan

Hak untuk mendapatkan akses kesehatan

Hak untuk mendapatkan rekreasi

Hak untuk mendapatkan kesamaan

Hak untuk memiliki peran dalam pembangunan

 

Karena kehilangan orang tuanya maka tidak menutup kemungkinan anak-anak akan kehilangan hak-haknya tersebut di atas terutama pada Pendidikan, akses kesehatan, dan makanan.



Disebabkan dampak ekonomi, banyak orang tua mengganti kebutuhan makanan atau gizi anak dengan lebih murah seperti pemberian susu. Banyak orang tua mengganti susu dengan kental manis, padahal dengan memberikan kental manis sebagai minuman susu untuk anak-anak akan menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari. Kental manis merupakan topping dengan kandungan gula tinggi yang seharusnya tidak boleh diberikan sebagai minuman susu untuk anak-anak. Konsumsi gula tinggi sejak kecil akan memberikan efek kesehatan jangka panjang. Beragam masalah kesehatan bisa terjadi karena konsumsi gula tinggi dan gizi yang tidak tepat.

 

Kemarin saya mengikuti diskusi publik yang diselenggarakan oleh KOPMAS dengan tema “Seberapa Serius Pemerintah Memperhatikan Pemenuhan Hak Anak-anak Terdampak Covid-19”. Rusmarnie Rusli – Bidang Pemberdayaan Perempuan KOPMAS memaparkan data Satgas Penanganan Covid-19 per 20 Juli 2021, jumlah anak terpapar Covid-19 mencapai 350.000 atau sebanyak 12,6% dari jumlah seluruh anak di Indonesia saat ini. Hal ini juga menjadi salah satu masalah yang harus diatasi bagaimana agar anak-anak terlindungi dari virus ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan terus memberikan makanan dengan gizi yang baik.

 

Sementara itu, Nahar SH, MSi, Deputi Perlindungan Anak KemenPPPA, menuturkan bahwa pemerintah serius menangani anak-anak terdampak Covid-19 melalui regulasi PP 78/2021 tentang Perlindungan Khusus bagi anak (anak dalam situasi darurat). Pak Nahar juga mengajak kita semua untuk berperan aktif menjaga anak-anak yatim piatu yang terdampak Covid-19 ini jangan dilihat sebagai anak-anak orang lain tapi menjadi anak-anak kita.

 

Dr. Jasra Putra, S. Fil. I, M. Pd, Anggota KPAI Kadiv Monitoring dan Evaluasi mengingatkan tantangan hak anak ke depannya. Komisioner KPAI juga mengingatkan Hak Anak dapat imunitas lewat vaksinasi covid harus segera dipenuhi sebagai upaya pemenuhan hak anak untuk mendapatkan akses kesehatan.

 

Dr. Kanya Eka Santi, MSW, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI menjelaskan bagaimana Kemensos aktif sebagai penyelenggara rehabilitasi, jaminan sosial, dan penanganan fakir miskin, khususnya anak-anak yang terdampak Covid-19 melalui perlindungan sosial, rehabilitasi sosial dan ATENSI (Asistensi Rehabilitasi Sosial).

 

Dilengkapi dengan pernyataan dari Anggota DPR RI Komisi IX Fraksi PDIP, H. Abidin Fikri, S. H, M. H pemenuhan hak anak terdampak Covid-19 adalah dengan pemberian vaksin.

 

Pemerintah terus berupaya memberikan solusi terhadap persoalan dampak pandemi ini dengan melakukan percepatan vaksinasi mulai dari anak-anak hingga lansia. Pemerintah juga memberikan bantuan kuota internet untuk belajar daring bagi peserta didik dan pengajar. Harapannya dengan adanya bantuan-bantuan dari pemerintah di berbagai sektor ini akan meringankan beban dampak pandemi yang masih belum pasti kapan berakhirnya.

 

Dan peran aktif dari masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan ini, terutama menyelematkan anak-anak kita yang terdampak Covid-19. Kementerian PPPA membuka telepon pengaduan Perempuan dan Anak 129, WA 08111129129 dan Kemensos juga membuka telepon pengaduan di 1500771, WA 081238888002. Jadi silakan laporkan jika ada anak-anak yang masih belum mendapatkan tempat berlindung setelah ditinggal orang tuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Karantina Membawaku Pada Law Of Attraction

The Law Of Attraction Doc. Andini Harsono Badai Covid-19 tiba-tiba menyerang sejak awal tahun 2020 dan hadir di Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat banyak sekali dampak, termasuk perubahan pola hidup bagi banyak orang. Tak terkecuali saya. Seperti dikejutkan dari mimpi indah, saya masih belum percaya bahwa virus itu bisa membawa perubahan drastis bagi kehidupan manusia. Sungguh, saya tidak menyangka bahwa pengaruhnya sedahsyat ini. Di samping kita harus berjuang melawan virus agar tidak hinggap di diri sendiri, kita juga harus bertahan di tengah situasi penuh dengan ketidakpastian seperti sekarang ini. Apa yang dialami masing-masing orang pasti berbeda-beda selama adanya Covid-19 ini. Tapi saya berharap apapun perubahannya adalah perubahan positif untuk kebaikan di masa depan. Aamiin. Saya memperhatikan kebiasaan orang-orang di sekitar bahwa mereka telah mulai terbiasa dengan bekerja dari rumah, belanja dari rumah, semua pekerjaan dilakukan online bahkan ada yang me

Film Buku Harianku : Film Untuk Semua Umur

Official Poster Film Buku Harianku Doc. IG @film.buku.harianku Sudah lama saya tidak nonton film bertemakan keluarga. Film keluarga dengan cerita ringan namun menghibur. Nah, Film Buku Harianku hadir menjadi penawar rindu film keluarga yang menyenangkan. Film Buku Harianku menampilkan artis cilik Kila dan Widuri dengan perannya masing-masing yang memukau. Slamet Raharjo hadir memperkuat cerita dalam film ini sebagai Kakek Kila yang tegas namun penyayang. Widi Mulya, Dwi Sasono dan Ence Bagus melengkapi suasana keluarga pada Film Buku Harianku. Dengan mengambil latar suasana pedesaan di Jawa Barat, menjadikan Film Buku Harianku tidak membosankan. Dikemas dengan nyanyian dan tarian dari Kila CS, sungguh menghibur. Ya, ini bukan film anak-anak tapi ini film semua umur yang asyik ditonton bareng keluarga atau teman-teman. Pemain, Produser, Sutradara dan Penata Musik Film Buku Harianku Doc. Andini Harsono Disutradari oleh Angling Sagaran, diproduksi oleh BRO's

Aplikasi EMS Pertolongan Pertama Obati Pikun

Doc. Andini Harsono Pikun biasanya akan terjadi pada para orang tua kita yang usianya sudah di atas 55 tahun. Saya ingat dulu masa Eyang puteri saya pensiun di usia mendekati 60 tahun, beliau sudah menunjukkan tanda-tanda kepikunan dengan ciri paling mudah ditandai yaitu dengan lupa meletakkan kacamata atau benda-benda pribadinya. Bahkan beliau sering menanyakan apakah dirinya sudah minum obat atau belum? Kebetulan beliau ada diabetes yang diharuskan minum obat secara teratur. Pada waktu itu belum ada istilah Alzheimer atau belum terlalu popular istilah ini. Hanya tahunya pikun karena sudah tua. Apa itu pikun? Ketika seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya. Adalah menurunnya kemampuan untuk berpikir pada otak seseorang. Dalam dunia medis disebut Demensia yaitu penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat dan kecepatan berpikir serta berperilaku. Bedanya dengan pelupa? Pikun terjadi karena fungsi kognitif menurun d