Langsung ke konten utama

Belajar Ecopreneur Dari Batik Quu Ciwaringin Cirebon




Sejak tahun 2017 saya tergerak untuk memilih pekerjaan tidak terikat waktu alias freelancer dan mulai mencoba melihat peluang usaha yang memungkinkan untuk saya jalani sebagai langkah selanjutnya. Di tahun itu juga saya mendapat kesempatan untuk ikut pameran promosi Indonesia di luar negeri yang diselenggarakan oleh KBRI setempat. Awalnya saya diminta bantu untuk mengurus perjalanan para pengusaha yang menjadi peserta pameran seperti mengurus tiket penerbangan, penginapan serta transportasi di sana. Melihat peluang yang ada ketika pameran itu, saya berpikir kenapa tidak saya mencoba ikut menjadi bagian dari peserta pemeran? Saya memberanikan diri untuk menjadi salah satu peserta pameran dengan membawa batik sebagai barang pameran saya waktu itu. Antusias pengunjung pameran membuat saya yakin bahwa usaha di dunia batik ini menjanjikan.


Dorongan untuk belajar berbisnis batik semakin kuat ketika saya bertemu banyak pengrajin batik yang kesulitan menjual batik hasil karyanya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Bapak Fathoni salah satu pengrajin batik dari Cirebon yang memiliki ciri khas dalam menjalankan usahanya yaitu batik yang dihasilkannya dari bahan alami, semua prosesnya dilakukan secara alami dan ramah lingkungan.


Belajar Ecopreneur Dari Batik Quu Ciwaringin


Desa Ciwaringin, Cirebon menjadi pusat batik yang ramai dikunjungi para pecinta batik. Selain untuk membeli batik, biasanya mereka yang datang ke sana ingin belajar lebih dalam soal batik. Tak terkecuali saya. Menemukan pembeda dari batik-batik lainnya, Batik Quu Ciwaringin milik Pak Fathoni menggunakan proses alami dan ramah lingkungan. Mulai dari pewarnanya yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar rumah Pak Fathoni baik yang sudah ada sejak dulu, maupun yang Pak Fathoni tanam sendiri seperti pohon mahoni, mangga, manggis, indigo dan sebagainya. Bahkan lilin yang digunakan bukan lilin baru namun lilin yang digunakan secara terus menerus, sehingga tidak ada limbah atau sampah yang dibuang di lingkungan yang bisa berdampak pada pencemaran.






Saya mencoba melakukan proses membatik mulai dari membuat pola hingga pewarnaan. Membatik itu sangat susah tapi ada seni yang melahirkan kebahagiaan batin di balik selembar kain batik. Pak Fathoni menciptakan design batiknya sendiri. Ini juga yang menjadikan batiknya mempunyai ciri. Bukan hanya pelajar, mahasiswa, dosen dan turis lokal, tapi mahasiswa hingga turis asing pun sudah datang ke Pak Fathoni untuk mengenal batik dengan proses alami. Saya dan siapa saja yang sudah datang ke sana akan terkagum-kagum dengan proses eco-label untuk menghasilkan batik-batik yang indah ini. Tak heran, jika batik Quu Ciwaringin sudah memiliki pelanggan baik dari dalam maupun luar negeri. Pak Fathoni juga sudah pernah ikut pameran di luar negeri seperti Thailand.


Bisnis Ecopreneur Merupakan Bagian Dari Green Jobs


Dunia kerja, usaha/bisnis telah mengalami banyak perubahan seiring perubahan masa yang ditambah dengan kecanggihan teknologi mempermudah pekerjaan atau usaha setiap orang. Banyaknya pilihan profesi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masa sekarang membuat kaum milenial yang sudah memasuki dunia kerja mempunyai kesempatan menentukan karir manakah yang sesuai dengannya. Semakin hari saya penasaran tentang istilah Green Jobs. Akhirnya saya mulai berselancar mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang apa itu Green Jobs.




GreenJobs adalah istilah yang diberikan ILO untuk jenis pekerjaan yang terkait dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan rendah emisi. Contoh Green Jobs yaitu ecopreneur, eco design architect, eco fashionpreneur, urban farmer, energy startup dan sebagainya. Tujuannya dapat membuka lapangan kerja baru, melestarikan lingkungan, menumbuhkan perekonomian dan juga menjaga keberlangsungan kehidupan.


Mudahnya, Green Jobs merupakan pekerjaan yang ramah lingkungan dan berkontribusi untuk melestarikan atau memulihkan lingkungan.


Beberapa waktu lalu saya juga mengikuti webinar tentang Green Jobs : Peluang Kerjanya Anak Muda untuk Indonesia Lebih Bersih dan saya semakin paham mengenai Green Jobs. Ternyata apa yang saya sedang pelajari yaitu ingin menjalankan usaha dengan menjual batik karya Pak Fathoni bisa dikatakan bagian dari Green Jobs dengan melihat peluang ecopreneur sebagai langkah ikhtiar usaha saya selanjutnya yang telah mengalami perubahan sejak pandemi.


Saya juga mulai sadar kalau bukan kita yang menjaga lingkungan siapa lagi. Maka banyak tercipta peluang kerja baru yang lebih memperhatikan lingkungan. Selain mulai memperdalam ecopreneur, saya juga sudah membiasakan diri untuk menjalani go-green, seperti mengurangi pemakaian plastik pada kehidupan sehari-hari. Dari kebiasaan inilah yang mendorong saya untuk memilih memperdalam bagaimana bisa menjadi seorang ecopreneur.


Bagi saya, dengan mencoba berbisnis ecopreneur jualan batik alami bukan saja menyelematkan lingkungan dari pencemaran tapi juga melestarikan warisan budaya yang menjadi identitas bangsa agar tidak hilang tergerus jaman. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Film 99 Nama Cinta : Antara Ambisi dan Cinta

Film 99 Nama Cinta Doc. Andini Harsono Siapa yang tak mengenal Acha Septriasa? Aktris yang kini tinggal di Australia kembali membintangi film berjudul 99 Nama Cinta pasca melahirkan. Berperan sebagai Talia seorang presenter sekaligus produser dalam program TV-nya sendiri yaitu acara gosip membuat ia jarang sekali ada waktu untuk Ibunya yang diperankan oleh Ira Wibowo apalagi mencari pasangan. Talia mengejar karir hingga ia melejit di dunia infotainment dan dikenal banyak orang. Namun, hidupnya berubah setelah bertemu dengan Kiblat (Deva Mahenra), ustaz muda yang muncul tiba-tiba untuk memberikan pelajaran agama sesuai wasiat almarhum ayah Talia. Namun siapa sangka, sejak pertemuan itu, karir Talia merosot jatuh gara-gara kesalahan kecil, tapi Kiblat ada untuk selalu mendukungnya hingga Talia mampu kembali bangkit dan menghadapi masalahnya. Talia dan Kiblat yang sebenarnya merupakan teman kecil terlihat malu-malu saat bertemu kembali. Kiblat yang berniat tulus mengajari Talia

Film Buku Harianku : Film Untuk Semua Umur

Official Poster Film Buku Harianku Doc. IG @film.buku.harianku Sudah lama saya tidak nonton film bertemakan keluarga. Film keluarga dengan cerita ringan namun menghibur. Nah, Film Buku Harianku hadir menjadi penawar rindu film keluarga yang menyenangkan. Film Buku Harianku menampilkan artis cilik Kila dan Widuri dengan perannya masing-masing yang memukau. Slamet Raharjo hadir memperkuat cerita dalam film ini sebagai Kakek Kila yang tegas namun penyayang. Widi Mulya, Dwi Sasono dan Ence Bagus melengkapi suasana keluarga pada Film Buku Harianku. Dengan mengambil latar suasana pedesaan di Jawa Barat, menjadikan Film Buku Harianku tidak membosankan. Dikemas dengan nyanyian dan tarian dari Kila CS, sungguh menghibur. Ya, ini bukan film anak-anak tapi ini film semua umur yang asyik ditonton bareng keluarga atau teman-teman. Pemain, Produser, Sutradara dan Penata Musik Film Buku Harianku Doc. Andini Harsono Disutradari oleh Angling Sagaran, diproduksi oleh BRO's

Belajar Sejarah Melalui Drama Kolosal Fatahillah

Fatahillah saat berperang melawan pasukan Portugis (Doc. Sarah) Belajar sejarah bagi sebagian orang memang membosankan, termasuk saya. Waktu saya duduk di bangku SMP dimana diminta memperdalam sejarah mulai dari masa kerajaan hingga Indonesia merdeka adalah tantangan yang cukup berat. Pasalnya saya pusing membaca buku-buku tebal ditambah guru yang bercerita panjang seakan meninabobokan saya ketika di kelas. Namun, seiring bertambahnya umur, saya menjadi tertarik belajar kembali tentang sejarah Indonesia. Saya menyesal, saya melewatkan pelajaran sejarah ketika sekolah dulu dan kini saya harus mengulang hampir seluruhnya. Beruntung, semakin kesini jaman sudah canggih. Saya tinggal ketika kata kunci dan google mencarikan berbagai informasinya untuk saya. Akan tetapi saya lebih suka mencari informasi dengan pakar sejarah atau mengunjungi langsung situs-situs sejarah yang masih ada. Sejarah juga erat kaitannya dengan budaya, maka jika saya sedang bepetualang, saya mengutamakan m