Langsung ke konten utama

Jaga Hutan Jaga Kehidupan Jaga Kita

 


Ilustrasi hutan 

design dan foto dari Canva

Melupakan cara menggali bumi dan merawat tanah berarti melupakan diri kita sendiri – Mahatma Gandhi

Begitu pentingnya alam untuk kehidupan semua makhluk di dunia ini namun seringkali kita lalai untuk menjaga mereka. Mahatma Gandhi menuliskan beberapa pesannya untuk menjaga alam dan tidak melupakan mereka sebagai dasar kehidupan ini bergerak. Alam bagaikan diri kita sendiri. Ketika lupa menjaganya sama saja lupa menjaga diri sendiri.

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Apalagi sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan alam luar biasa sudah sepatutnya saya turut menjaga alam Indonesia. Saya masih ingat begitu bahagianya blusukan ke hutan di lereng Gunung Puntang, di Pulau Karimun Jawa, di Bali, di Blora dan beberapa tempat lainnya di Indonesia ketika saya melakukan perjalanan. Saya seperti semakin “hidup” ketika berada di tengah-tengah rindangnya pohon-pohon tinggi menjulang dengan suara burung atau hewan-hewan liar berterbangan di atas kepala tak lupa semilir angin yang menyapa dari balik dedaunan. Sungguh mengesankan. Ahh saya jadi rindu hutan.

Sebagai pengobat rindu, hari Jumat tanggal 2 Oktober 2020 kemarin, saya mendapat kesempatan bergabung dalam virtual gathering “Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan” yang diselenggarakan oleh Hutan Itu Indonesia dan Blogger Perempuan Network. Narasumber yang hadir benar-benar menginspirasi saya, yaitu Christian dari Hutan Itu Indonesia, Irham Hudaya Yunardi dari Forum Konservasi Leuser di Aceh, dan Satya Winnie seorang Travel Influencer. Mereka ini orang-orang yang dianugrahi kekayaan hati untuk menjaga alam dan menyuarakan betapa pentingnya kita menjaga alam. 

Alhamdulillah dapat kado dari Hutan Itu Indonesia, terima kasih yaa :)
doc. Andini Harsono

Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan

AdopsiHutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan kita juga bisa menumbuhkan kecintaan terhadap hutan Indonesia yang berpengaruh pada kehidupan.

Cara paling mudah yang bisa kita lakukan adalah mendukung gerakan adopsi hutan dengan menyisihkan dana untuk membantu mengadopsi hutan yang kita titipkan kepada organisasi, forum, komunitas atau lembaga yang fokus pada pelestarian hutan, seperti Forum Konservasi Leuser melalui Gerakan Hutan Soraya.

Selain itu, hasil hutan yang diolah oleh masyarakat sekitar hutan juga bisa kita dukung perkembangannya dengan cara membeli produk mereka, misalkan madu, biji pala dan lain sebagainya. Dengan begitu pula secara tidak langsung kita sudah membiasakan diri mengkonsumsi pangan lokal yang lebih menyehatkan. 

Hutan Itu Indonesia dan Forum Konservasi Leuser

Tian dari Hutan Itu Indonesia menyampaikan bahwa hutan di Indonesia jika diukur bisa diibaratkan dengan Negara Jepang dikalikan 4, sungguh luas. Oleh karena itu, bukan perkara mudah untuk bisa menjaga hutan, juga bukan perkara sulit agar hutan tetap terjaga. Hutan Itu Indonesia bergerak sejak tahun 2016 untuk membangun kampanye positif menarasikan hutan ke masyarakat perkotaan bahwa mereka pun bisa turut berperan aktif dalam menjaga hutan meskipun tinggal jauh dari hutan.


Hutan Leuser Aceh
doc. tribunews

Forum Konservasi Leuser merupakan salah satu penerima manfaat dari kampanye Hutan Itu Indonesia yaitu dengan menjalankan program adopsi hutan pertama kali. Dengan adanya Stasiun Penelitian Soraya, program adopsi hutan dapat dijalankan dengan baik.

Stasiun Penelitian Soraya ini terletak di kota Subulussalam, tepatnya di desa Pasir Belo tidak jauh dari Sungai Alas di dalam hutan lindung Kawasan Ekosistem Leuser dengan luas 500 hektar yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh bekerjasama dengan Forum Konservasi Leuser dan KPH wilayah VI Provinsi Aceh.

Permasalahan yang dialami hutan Leuser yaitu illegal logging, dan pemburuan hewan. Kejadian ini meningkat pada saat masa pandemic sehingga dibentuklah patroli ranger gabungan untuk menjaga hutan Leuser ini, salah satu penggunaan dana yang diperoleh adalah untuk kegiatan jaga hutan oleh teman-teman petugas patroli ranger ini. Stasiun Penelitian Soraya juga digunakan sebagai penelitian bagi para mahasiswa, dan juga mengedukasi masyarakat serta komunitas. Ada juga staf yang bertugas mengumpulkan data fenologi dan tanda satwa di dalam wilayah kelola.

Berpatroli di Hutan Leuser
doc. mongabay.co.id

Di Hutan Leuser memiliki 4 mega fauna yaitu Gajah Sumatera, Badak, Harimau Sumatera dan Orang Utan yang hidup damai di sana. Negara Indonesia merupakan urutan nomor 2 yang memiliki keanekaragaman hayati di dunia setelah Brazil dengan Hutan Amazonnya. Kebayang dong keindahan Hutan Leuser lengkap dengan semua makhluk di dalamnya.

Desa Ketambe – Leuser Bagian Dari Keindahan Indonesia

Desa Ketambe yang berada di Aceh Tenggara ini merupakan pintu masuk untuk menuju ke area ekosistem Leuser. Desa ini lebih dekat diakses dari kota Medan dengan menempuh perjalanan darat kurang lebih 7 jam. Waw sepertinya seru. Benar saja, Satya Winnie menceritakan betapa senangnya dia berada di Desa Ketambe untuk menikmati keindahan hutan di sana.


Cerianya Kak Satya berbagi cerita bareng kami
jangan lupa protokol kesehatan yaa :)
doc. Andini Harsono

Menurut Satya yang sudah 3 kali menikmati keindahan Hutan Leuser memiliki kesan tersendiri Ketika berada di sana. Pasalnya penduduk ramah-ramah, fasilitas umum sudah lengkap dan sudah siap menerima wisatawan lokal maupun asing. Bahkan penduduk setempat telah dilatih sebagai pemandu wisata untuk menikmati Hutan Leuser. Salah satu pemandu favoritnya Satya adalah Bang Iz. Konon dia telah belajar tentang flora fauna yang ada di Hutan Leuser sehingga bisa menceritakan pada tamu yang ditemaninya. Menarik ya.

Saat berada di Hutan Leuser, kita akan bertemu dengan Orang Utan dan satwa liar lainnya maka dari itu ada aturan yang harus dipatuhi karena kita datang sebagai tamu. Selain itu, kita juga bisa menginap di dalam hutan dengan membangun tenda di tepi sungai. Semua perlengkapan menginap termasuk dengan logistik akan disiapkan oleh pemandu lokal yang menemani. Seru banget sih, jadi tertarik ingin mencoba berkunjung ke Hutan Leuser, menikmati alam sambil belajar banyak tentang jenis flora fauna yang ada di sana serta belajar bagaimana lebih bisa menghargai alam.

Adopsi hutan atau adopsi pohon merupakan sesuatu yang baru bagi kita dan perlu dikampanyekan lebih luas lagi. Manfaatnya bukan untuk alam saja namun akan kembali kepada kita. Sebagai pecinta alam, Satya mengajak kita semua untuk lebih peduli terhadap keberlangsungan hutan dan ekosistem di dalamnya. Salah satu caranya yaitu dengan berpartisipasi dalam adopsi hutan ini apalagi kita yang tinggal jauh dari hutan.

Saya jadi teringat dengan salah satu penggiat lingkungan di Gunung Puntang yang berkata seperti ini, “Kalau kita jaga mereka (alam) maka mereka juga akan jaga kita. Udah banyak tanda kalau alam itu cinta banget sama kita, contohnya air bersih yang selalu bisa dinikmati oleh warga sekitar.” Dalam benak saya mengiyakan perkataannya, kadang kita tidak sadar bahwa sudah banyak cinta yang alam berikan kepada kita, nah sekarang tinggal kita nih, sudahkah membalas cintanya alam?


Peserta Virtual Gathering :)


Komentar

  1. Semoga makin banyak yang peduli kelestarian hutan kita ya 🎉

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Karantina Membawaku Pada Law Of Attraction

The Law Of Attraction Doc. Andini Harsono Badai Covid-19 tiba-tiba menyerang sejak awal tahun 2020 dan hadir di Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat banyak sekali dampak, termasuk perubahan pola hidup bagi banyak orang. Tak terkecuali saya. Seperti dikejutkan dari mimpi indah, saya masih belum percaya bahwa virus itu bisa membawa perubahan drastis bagi kehidupan manusia. Sungguh, saya tidak menyangka bahwa pengaruhnya sedahsyat ini. Di samping kita harus berjuang melawan virus agar tidak hinggap di diri sendiri, kita juga harus bertahan di tengah situasi penuh dengan ketidakpastian seperti sekarang ini. Apa yang dialami masing-masing orang pasti berbeda-beda selama adanya Covid-19 ini. Tapi saya berharap apapun perubahannya adalah perubahan positif untuk kebaikan di masa depan. Aamiin. Saya memperhatikan kebiasaan orang-orang di sekitar bahwa mereka telah mulai terbiasa dengan bekerja dari rumah, belanja dari rumah, semua pekerjaan dilakukan online bahkan ada yang me

Film Buku Harianku : Film Untuk Semua Umur

Official Poster Film Buku Harianku Doc. IG @film.buku.harianku Sudah lama saya tidak nonton film bertemakan keluarga. Film keluarga dengan cerita ringan namun menghibur. Nah, Film Buku Harianku hadir menjadi penawar rindu film keluarga yang menyenangkan. Film Buku Harianku menampilkan artis cilik Kila dan Widuri dengan perannya masing-masing yang memukau. Slamet Raharjo hadir memperkuat cerita dalam film ini sebagai Kakek Kila yang tegas namun penyayang. Widi Mulya, Dwi Sasono dan Ence Bagus melengkapi suasana keluarga pada Film Buku Harianku. Dengan mengambil latar suasana pedesaan di Jawa Barat, menjadikan Film Buku Harianku tidak membosankan. Dikemas dengan nyanyian dan tarian dari Kila CS, sungguh menghibur. Ya, ini bukan film anak-anak tapi ini film semua umur yang asyik ditonton bareng keluarga atau teman-teman. Pemain, Produser, Sutradara dan Penata Musik Film Buku Harianku Doc. Andini Harsono Disutradari oleh Angling Sagaran, diproduksi oleh BRO's

Teknologi UV-C Dapat Melindungi Diri Dari Mikro-organisme

  Design by Canva Sejak menghadapi pandemi Covid-19 saya semakin memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan tempat tinggal. Memperhatikan pola makan, istirahat, olahraga dan rutin bersih-bersih rumah. Sedikit-sedikit saya lap lantai, meja, gagang pintu dan semua benda-benda di rumah yang sering saya pegang dengan cairan disinfektan. Tujuannya supaya tidak ada virus, kuman dan bakteri yang menempel. Sekarang saya juga tambah dengan mendisinfeksi udara dalam rumah. Memang effort -nya sedikit naik, tapi demi menjaga kesehatan dan terhindar dari berbagai macam virus terutama Corona, saya rela melakukan apa saja. *senyummanis. Beberapa hari yang lalu saya mengikuti diskusi virtual dari Signify yang membahas tentang “Sinar UV-C : Kawan atau Lawan? Pemanfaatan Teknologi UV-C yang Aman untuk Perlindungan Masyarakat dari Mikro-organisme.” . Dalam diskusi virtual tersebut hadir beberapa pakar sesuai bidangnya sebagai narasumber. Diskusi virtual ini diselenggarakan untuk memba