Film Banda : Cara Asyik Belajar Sejarah

Poster Film Banda The Dark Forgotten Trail
(dok. bioskoptoday.com)


Tahun 2014 hampir saya pergi ke Banda Naira mendampingi Balai Konservasi Indonesia dan Belanda. Namun, sayangnya bentrok dengan tugas lain dan diminta big bos untuk stay di Jakarta handle pekerjaan tersebut. Padahal, cita-cita saya adalah explore Indonesia Timur dan mengenali sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Benar saja, Kepulauan Banda menyimpan banyak cerita sejak ribuan tahun lalu. Berbagai bangsa datang ke pulau ini untuk memperebutkan rempah-rempah seperti pala, dan cengkeh. Banda adalah penghasil pala terbaik di dunia. Hingga abad ke-19, Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. 

Dengan adanya film "Banda The Dark Forgotten Trail" rasa keingintahuan saya terjawab sudah. 94 menit saya menjadi berarti karena nonton film Banda. Memang, di menit-menit pertama saya terkaget-kaget karena musiknya mirip film horor. Tapi sepanjang film, mata saya dimanjakan dengan Sinematografi yang ciamik. Alam yang indah, sejarah yang berharga, budaya yang mengagumkan dikemas cantik dengan angle-angle menarik sehingga tidak membosankan.

Kisah-kisah yang diceritakan secara berurutan mengantarkan dunia khayal saya untuk membayangkan masa-masa tersebut. Hingga berakhir pada kisah Bung Hatta, Cipto Mangunkusumo dan Sjahrir. Semuanya mengagumkan.

Film Banda adalah sarana untuk mempelajari sejarah dan budaya secara cepat. Narasi apik yang dituturkan Reza Rahardian menambah kaya film ini. Banyak quote inspiratif di film ini dan yang saya ingat salah satunya,

"Melupakan masa lalu adalah sama saja mematikan masa depan bangsa ini."

Yang bikin saya kaget lagi adalah adanya pembacaan puisi "Cerita Buat Dien Tamaela" pada film ini dimana saya dan group PEDAS (Penulis dan Sastra) pernah membacakan puisi ini. Karya Chairil Anwar ini memang membuat merinding.

Film garapan Jay Subiyakto ini berhasil membius saya untuk segera mengambil trip ke Banda. Melihat langsung 12 benteng peninggalan Portugis dan Belanda. Menikmati sepoi-sepoi angin pantai. Bercanda dengan anak-anak Banda yang sudah dilahirkan dengan berbagai suku. Dan menikmati sore dalam dekapan sejarah masa lampau di Kepulauan Banda.

Seakan mengambil momen yang pas di bulan Kemerdekaan Indonesia, film Banda dapat menjadi sarana positif anak-anak muda untuk kembali mengingat sejarah. Mengenal sejarah dan semakin mencintai budaya. 

Film yang tepat bagi mereka pencinta dokumenter.

Komentar

  1. Wah, di Banda ternyata ada 12 benteng ya mbak. Nice infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa yang tersebar di Kepulauan Banda. Saya juga baru tahu setelah menonton film ini. Terima kasih telah menjejak di tulisan ini :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer