Langsung ke konten utama

Film 99 Nama Cinta : Antara Ambisi dan Cinta

Film 99 Nama Cinta
Doc. Andini Harsono

Siapa yang tak mengenal Acha Septriasa? Aktris yang kini tinggal di Australia kembali membintangi film berjudul 99 Nama Cinta pasca melahirkan. Berperan sebagai Talia seorang presenter sekaligus produser dalam program TV-nya sendiri yaitu acara gosip membuat ia jarang sekali ada waktu untuk Ibunya yang diperankan oleh Ira Wibowo apalagi mencari pasangan. Talia mengejar karir hingga ia melejit di dunia infotainment dan dikenal banyak orang. Namun, hidupnya berubah setelah bertemu dengan Kiblat (Deva Mahenra), ustaz muda yang muncul tiba-tiba untuk memberikan pelajaran agama sesuai wasiat almarhum ayah Talia. Namun siapa sangka, sejak pertemuan itu, karir Talia merosot jatuh gara-gara kesalahan kecil, tapi Kiblat ada untuk selalu mendukungnya hingga Talia mampu kembali bangkit dan menghadapi masalahnya.

Talia dan Kiblat yang sebenarnya merupakan teman kecil terlihat malu-malu saat bertemu kembali. Kiblat yang berniat tulus mengajari Talia mengaji mendapat penolakan dari Talia hingga timbul perselisihan diantara keduanya. Namun, Kiblat tidak pernah lelah untuk mendekati Talia. Sifat ambisius Talia berhadapan dengan Kiblat yang tenang dan penuh cinta.

Film 99 Nama Cinta
Doc. MNC Pictures


Film bergenre drama ini disutradarai oleh Danial Rifki dengan penulis naskah Garin Nugroho yang mengisahkan romansa sepasang insan dilanda cinta dengan sentuhan religi. Kisahnya begitu santun namun tidak membosankan karena Danial dan Garin berhasil menyelipkan tokoh-tokoh di luar ekspetasi sebagai pelengkap adegan per adegan, seperti kehadiran Dzawin yang berperan sebagai Bambu (kawan Ustaz Kiblat) dan Adinda Thomas sebagai Mlenuk sungguh memecah suasana. Belum lagi beberapa cameo yang sungguh memberi kejutan.

Mengambil latar di Jakarta dan Kediri membuat film ini bergerak dinamis. Jakarta dengan segala kesibukannya dan Kediri dengan ketenangannya yang digambarkan dengan lingkungan pesantren dan kedamaian sebuah desa. Talia mewakili seorang wanita karir yang sangat ambisius di Jakarta bekerja bersama teman kantor yaitu Mlenuk, Chandra (Susan Sameh) dengan atasan Robby Purba memiliki konflik di lingkungan kerja selayaknya yang sering terjadi pada dunia nyata. Sedangkan Ustaz Kiblat yang baru saja pulang menuntut ilmu di Kairo merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukan syiar agama namun ia ingin melakukannya dengan cara sendiri tetapi dia selalu merasa ilmunya belum cukup.

Film 99 Nama Cinta
Doc. Salman Biroe

Deva mengaku mengambil beberapa referensi ustaz yang menyampaikan syiar agama Islam dengan gaya berbeda untuk menghayati perannya sebagai Ustaz Kiblat yang muda dan aktif. Baginya, peran sebagai ustaz sungguh sebuah tantangan berbeda. Dipasangkan dengan Acha, beradu akting dengan Donny Damara yang berperan sebagai ayahnya, sungguh membuatnya lebih mudah mendalami peran sebagai Kiblat.

99 Nama Cinta juga menghadirkan Chiki Fawzi dan Ayana bintang Korea sebagai kejutan tak terduga. Chiki Fawzi untuk pertama kali menunjukkan bakat aktingnya berperan sebagai Husna yang tetap menonjolkan karakternya sebagai seorang musisi/penyanyi. Meski baru pertama kali terlibat project layar lebar, akting Chiki patut diacungi jempol. Husna tokoh yang diperankan begitu manis dan membuat penasaran apakah ia menyimpan perasaan terhadap Kiblat?

Film ini juga bukan hanya mengisahkan cerita cinta-cintaan sepasang kekasih melainkan menebarkan cinta kasih terhadap sesama. Garin mengemas bahwa cinta Allah melalui 99 nama-Nya sungguh nyata. Mencintai bukan hanya terhadap pasangan atau orang tua saja, tetapi harus disebarkan kepada sesama. Cerita pada film sungguh ringan dan mengalir namun sarat makna. 

Film 99 Nama Cinta produksi MNC Pictures ini akan tayang tanggal 14 November 2019 serentak di bioskop. Film ini bisa menjadi referensi tontonan asyik bersama orang-orang tersayang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenali dan Cegah Thalassemia Sedini Mungkin

Musim hujan telah tiba nih, sudah seharusnya kita meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan. Seperti biasa, musim hujan maka flu mudah menyerang. Belum nanti diare dan lain sebagainya. Konsumsi makanan bergizi seimbang, gerak badan alias olahraga, dan istirahat cukup adalah upaya pencegahan berbagai macam penyakit. Sebenarnya bukan hanya pada musim penghujan aja sih, kita harus setiap hari usaha menjaga pola hidup sehat.
Berbicara soal kesehatan tidak akan ada habisnya apalagi bicara soal penyakit. Nah, minggu lalu saya mengikuti seminar “Pengendalian Kanker dan Thalassemia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular khususnya kanker dan thalassemia. 
Tentang Thalassemia
Saya mau berbagi informasi tentang thalassemia dulu ya, karena bagi saya thalassemia masih asing diketahui. Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah merah yang diturunkan dari kedua orangtua kepada anak dan keturunannya. Penyakit ini disebabkan karena berkura…

BPOM Ajak Pelaku Usaha Mengedukasi Masyarakat Melalui Perka No. 31 Tahun 2018

Sebagai anak kos, saya sering mengonsumsi pangan olahan yang dibeli dari supermarket karena lebih praktis. Oleh karena itu saya tidak boleh lengah untuk tidak membaca label pada kemasannya, kapan tanggal kadaluarsa, kode produksi dan informasi gizi di dalam pangan tersebut. Kebanyakkan dari kita sering lupa untuk melakukan hal tersebut. Jangan karena beli di supermarket lalu kita menganggap enteng hal itu, biar bagaimanapun kita harus menjadi konsumen cerdas sebelum membeli.
Belum lama ini BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengeluarkan Perka Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang merupakan revisi dari peraturan terkait label pangan olahan yang sebelumnya diatur dalam Lampiran IV Peraturan Badan POM Nomor 27 tahun 2017 tentang Pendaftaran Pangan Olahan.
Kalau boleh saya rangkum isi Perka Nomor 31 tahun 2018 adalah sebagai berikut :
Harus tercantum label halal (apabila memang pangan tersebut halal). Label halal dapat dicantumkan sepanjang telah mendapat sertifikat halal …

IFC Gelar "La Mode" Sur La Seine a Paris Desember 2018

Paris merupakan pusat fashion dunia yang sampai sekarang masih menjadi barometer para designer-designer dunia untuk berkreasi dalam karyanya. Ketika bicara gaya apa yang sedang hits sekarang, pasti semua orang mencari referensi dari kota ini. Hal ini tidak mau dilewatkan begitu saja oleh Indonesia Fashion Chamber (IFC) untuk turut serta meramaikan dunia fashion di Paris.
Melalui “La Mode” Sur La Seine a Paris yang akan diselenggarakan di kota Paris, Perancis tanggal 1 Desember 2018 ini, IFC berharap fashion Indonesia makin diminati di mata internasional. Ya, Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang bisa diaplikasikan ke dalam dunia fashion. Batik merupakan kain khas Indonesia yang telah diakui dunia. Tenun Indonesia juga sudah mendapat tempat di pasar internasional.
Fashion show“La Mode” Sur La Seine a Paris akan menampilkan karya 16 designer Indonesia yang mengangkat konten lokal sesuai tren global, meliputi katagori busana konvensional hingga busana muslim. Designer yang turut sert…