Langsung ke konten utama

Fall In Love With Hong Kong And Macau

Hong Kong 1881
Doc. Andini
Capture by Nila



Desember 2018, saya sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas-tugas akhir tahun bersama tim demi tercapai target bulan Januari bisa liburan. Ya, saya memang mengharuskan 1 kali dalam setahun (sebisanya) untuk melakukan sebuah perjalanan (liburan) tanpa ada beban pekerjaan. Hal ini saya lakukan sebagai reward untuk diri saya sendiri yang telah bekerja keras selama setahun sekaligus memotivasi diri saya kembali untuk mencapai target-target yang saya susun di akhir tahun untuk dilaksanakan tahun berikutnya. Meskipun gak harus tercapai juga, tapi dengan begitu saya punya semangat untuk mencapainya. Kurang lebih begitu aturan hidup saya sejak 2 tahun (2016) lalu heuheu..

Januari 2019, saya memilih kembali ke Kuala Lumpur, tapi dengan rute perjalanan sedikit berbeda. Karena bersama dengan Mak Tati yang belum sama sekali ke sana, akhirnya saya jadi guide-nya. Mengunjungi beberapa destinasi yang sama, buat saya gak masalah. Pasti ada cerita baru, pengalaman baru yang unik untuk diceritakan. Benar saja, seperti ketika kami di Genting Highlands. Beruntungnya kami, Skyway yang biasa digunakan sedang perbaikan jadi menggunakan Skyway rute lama yang saya belum pernah ke sana. Sempat bingung dan akhirnya nyasar :D. Kami harus merogoh kocek lebih akibat nyasar. Marah? Tentu tidak. Kesal? Sedikit *lol. Itu satu dari ratusan cerita yang sering saya alami ketika bepergian, baik dalam maupun luar negeri. Tapi kalau di luar negeri, lebih beragam lagi. Alhamdulillahnya gak ada yang aneh-aneh, semoga selamanya aman-aman aja yaaa..

Pulang dari Kuala Lumpur, saya disibukkan kembali oleh beberapa project yang tiba-tiba deal dalam waktu hampir bersamaan. Gini nih, yang namanya jadi freelance, kalau lagi sibuk ya sibuk, kalau lagi gabut ya gabut *nyengirasam. Oya, sejak akhir tahun saya bergabung dalam sebuah tim kece, namanya Lasak. Lalu saya tambahkan sembilan pada belakang namanya karena saya menamai pekerjaan saya sebagai Nine Projects atau Sembilan Proyek. Jadilah Lasak Sembilan. Kenapa Sembilan? Nah itu nanti bisa dikepoin dalam blog sederhana milik Lasak Sembilan ya :)

Lasak ini adalah media anti-mainstream (lasak.id) dan ketika menjadi Lasak Sembilan adalah mewakili pekerjaanku selama ini. Kira-kira begitu lah yaa. Oke balik lagi. Setelah pulang dari Kuala Lumpur, partner kerjaku namanya Mba Nila (saya sering memanggilnya Bundo karena dia orang Padang dan pantas jadi Ibuku *eh) menanyakan, "Mba, mau jalan kemana lagi habis ini?" sambil nyeruput Coffee Latte kesukaannya.

"Hmm gak tahu nih Bundo, aku sih pengen nambah Negara. Satu aja. Masa jalannya ke ASEAN lagi. Kalau domestik, aku galau tiketnya kok sama kalau kita ke luar yaa." 

"Ya udah, mau gak ke Hong Kong? Nanti sekalian ke Macau. Aku belum pernah kalau ke Macau."

"Aku sih baru browsing-browsing Nepal. Terus sempet browsing Pakistan, tapi lagi agak-agak konflik ya."

Ketika saya bepergian ke luar negeri, saya merasa banyak tantangannya. Survive-nya ada, perjuangannya ada, beraninya ada dan pengalamannya menambah rasa syukur saya.

"Aku juga pengen ke Tibet. Tapi itu nanti aja Mba. Kita ke Hong Kong yuk. Bulan apa gitu? September or Oktober. Setelah anak-anakku masuk sekolah."

"Hmm aku pengen ke Macau-nya sih timbang Hong Kong. Boleh lah. Eh berapa duit?" Namanya single fighter ya kan harus hitung-hitung anggaran dasar rumah tangga seorang single terlebih dahulu baru jalan kemudian *lol.

"Tahun lalu aku ke Hong Kong undangan sih. Aku gak tahu deh kalau sendirian. Kamu aja Mba yang ngitung. Kamu lebih jago hitung timbang aku hahaha."

Sejak itulah, saya membayangkan Hong Kong Macau Hong Kong Macau (repeat), kepoin di blog-blog yang sudah pada ke sana. Hunting-hunting tiket dan hotel serta transportasi umum. Hingga suatu malam ada seorang kawan memberitahuku kalau Singapore Airlines sedang promo. Oh My God, maskapai yang kuidam-idamkan sejak tahun 2009, dikala hampir setiap minggu saya menerima tiket milik bos yang bolak balik Singapore by SQ, lalu kubayangkan kalau terbang pakai SQ gimana rasanya, daann saya harus berusaha untuk bisa ke Hong Kong pakai SQ *pasang ikat kepala dan mengepalkan tangan.

Seminggu setelah kabar tersebut, datanglah kabar yang sungguh membahagiakan. Allah kasih kejutan luar biasa. Suatu project dinyatakan deal. Seakan semesta mendukung. Pertengahan Februari saya sibuk mengerjakan suatu project yang nilainya bisa untuk beli tiket SQ ke Hong Kong, OMG OMG OMG. Setelah project selesai dan pembayaran honor diterima, saya segera mengeksekusi penerbangan ke Hong Kong.

"Mba dipercepat aja ke Hong Kong-nya, jadi awal April aja. Sebelum gue sibuk dengan ini itu." pinta Mba Nila.

Bergegas saya memantau harga tiket dan waktu yang tepat. Akhirnya taraaa booked tanggal 2 - 7 April 2019. OMG OMG OMG 100x. Mau tahu gak saya dan Mba Nila dapat harga SQ berapa? Rp. 5,890,000,- PP berdua. Jadi seorang Rp. 2,945,000,- PP. Alhamdulillah. PR selanjutnya adalah hunting penginapan. Kami memilih menginap di sebuah Hostel di kawasan Tsim Sha Tsui. 

Senado Square Macau
Doc. Andini

Sebuah gang di Macau
Doc. Andini

Perjalanan ke Hong Kong sungguh sangat menyenangkan. Saya jatuh cinta pada negara ini. Saya pastikan, dia menjadi negara favorit kedua saya di Asia (setelah Singapore). Kenapa? Transportasi publiknya sungguh membahagiakan. Dengan kartu sakti bernama Octopus, kita bisa gunakan untuk naik MTR, bus bahkan jajan di Sevel. Kotanya bersih dan orangnya cukup ramah-ramah. Peraturan pemerintahnya juga cukup mengagumkan. Setelah Hong Kong saya ke Macau, aduh saya jatuh cinta lagi. Kota tua yang berada di kepulauan ini, menyihir saya dengan kebersihannya. Di Macau harus pakai bus karena gak ada kereta. Takjubnya, pindah-pindah pulau gak kerasa. Di Hong Kong pun demikian. MTR-nya berada di dalam laut. OMG.

Salah satu rumah di Tai O Village
Doc. Andini

Kami berdua mengunjungi salah satu desa di Hong Kong yaitu Tai O Village. Ya ampun, perjalanan selama 1,5 jam kurang lebih gak berasa karena busnya nyaman dan sudah terintegrasi dengan MTR. Sampai di Tai O, sungguh mengesankan. Sulit untuk diungkapkan. Nanti nonton videonya aja yaa, bakal tayang di channel Sewaktu Piknik hehe.

Rumah-rumah di Tai O Village
Doc. Andini


Intinya, saya jatuh hati sama kedua Negara di negeri Tiongkok ini. Saya jadi penasaran dengan Guangzhou, Shanghai dan lainnya *lol. Hanya saja memang, untuk makan di Hong Kong dan Macau agak cukup tinggi, kurang lebih sama dengan Singapore. Tapi jangan khawatir, porsinya gede, bisa untuk sharing. Itu yang saya lakukan dengan Mba Nila untuk menghemat budget. Maklum yaa kami pergi ala-ala backpackeran :D

Tulisan ini adalah curhatan saya sih haha. Curhat tapi berharap siapapun Anda yang baca bisa mengambil intisari dari tulisan ini. Saya cuma mau bilang, jangan takut bermimpi. Jangan takut juga buat rencana agar hidupmu gak flat-flat aja kayak apartemen. Tahun 2017 lalu saya bermimpi ke Russia dan terwujud di pertengahan 2018. Tahun ini saya bermimpi nambah 1 Negara untuk saya explore dan Allah kasih 2. Saya masih bermimpi lagi untuk bisa ke Osaka dan Kyoto tahun ini, belum lagi ingin ke Lembah Harau, Bukittinggi dan Pekanbaru. Entah bagaimana caranya, saya juga belum tahu, yang penting pikirkan saja dulu nama-nama kota tersebut. "Kok mimpinya jalan-jalan mulu? Kapan punya rumahnya? Kapan nikahnya? Kapan lanjut S2-nya?" Jawabannya ada pada Yang Maha Kuasa *senyum lebar selebar Gelora Bung Karno.

Bermimpilah, susun rencanamu, pikirkan dan lepaskan dalam doa. Masalah kapan terwujud itu tergantung seberapa keras usahamu. Kalau belum terwujud juga, coba buka mata hatimu, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik.

When lost in Victoria Peak Garden
Doc. Andini

Waktu gak pernah salah untuk menjawab semua mimpi dan doa-doa kita. Sudah saatnya kita terus optimis. Kalau kata Bapak Joko Widodo, kita gak akan maju kalau kita gak optimis. Kita gak akan jadi bangsa yang maju kalau kita pesimis. Kata saya, benar juga :)

Okelah segitu aja curhatan saya yang sudah panjaaaang ini. Semoga suatu hari kita bisa jalan-jalan bareng yaa hehe. Terima kasih sudah berkenan membaca.

*ditulis di atas ketinggian kurang lebih 30,000 kaki di atas permukaan laut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Pekan Seru di Banten Lama

Entah mengapa sejak 2 bulan belakangan ini, saya ingin sekali menghabiskan waktu akhir pekan di Banten Lama. Sampai-sampai saya mengatakan hal ini ke beberapa kawan dan juga sepupu saya yang hobinya “ngulik tempat-tempat bersejarah.
Seakan alam tahu apa keinginan hati dengan keberuntungan saya bergabung dalam kegiatan “Pesona Cagar Budaya Indonesia, Banten Lama.” yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ya, tanggal 12-14 Oktober 2018 lalu saya explore Banten Lama.
Meskipun bukan kali pertama saya datang ke sini namun pesona Banten Lama tetap mencuri perhatian. Apa sih yang membuat saya ingin datang lagi ke Banten Lama? Cerita sejarah yang menjadi cagar budaya di tempat ini sungguh mengesankan. Banten dulunya sempat berjaya mengusai ekonomi nusantara dengan hasil rempah-rempah yang melimpah. Para pedagang dari India, Malaysia, Vietnam hingga Cina berbondong-bondong merapat di Pelabuhan Karangantu, Banten. Hi…

BPOM Ajak Pelaku Usaha Mengedukasi Masyarakat Melalui Perka No. 31 Tahun 2018

Sebagai anak kos, saya sering mengonsumsi pangan olahan yang dibeli dari supermarket karena lebih praktis. Oleh karena itu saya tidak boleh lengah untuk tidak membaca label pada kemasannya, kapan tanggal kadaluarsa, kode produksi dan informasi gizi di dalam pangan tersebut. Kebanyakkan dari kita sering lupa untuk melakukan hal tersebut. Jangan karena beli di supermarket lalu kita menganggap enteng hal itu, biar bagaimanapun kita harus menjadi konsumen cerdas sebelum membeli.
Belum lama ini BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengeluarkan Perka Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang merupakan revisi dari peraturan terkait label pangan olahan yang sebelumnya diatur dalam Lampiran IV Peraturan Badan POM Nomor 27 tahun 2017 tentang Pendaftaran Pangan Olahan.
Kalau boleh saya rangkum isi Perka Nomor 31 tahun 2018 adalah sebagai berikut :
Harus tercantum label halal (apabila memang pangan tersebut halal). Label halal dapat dicantumkan sepanjang telah mendapat sertifikat halal …

Ingin Punya Bisnis? Segera Lakukan

"Going into business without a business plan is like going on a mountain trek without a map or GPS support - you'll eventually get lost and starve." - Kevin J. Donaldson
Bisnis tanpa rencana bagaikan bepergian tanpa arah dan persiapan. Resikonya tentu tersesat dan pada akhirnya tidak sampai pada tujuan. Bisnis bagaikan roda kehidupan yang terus berputar seiring perputaran waktu yang kian hari kian cepat. Maka dari itu, kalau kita sedang menjalankan bisnis harus benar-benar terencana dan memiliki strategi kuat. 
Kamis, 20 September 2018 lalu saya berkesempatan hadir menjadi bagian Women Talk bersama Futri Zulya S.Mn, M. Bus dengan tema "How to Start Your Business" di Kemang, Jakarta Selatan. CEO PT Batin Medika Indonesia ini menuturkan perjalanan menjalankan bisnisnya setelah selesai kuliah. Dengan rencana dan strategi yang kuat, Futri berhasil menjalankan bisnisnya hingga berkembang sampai saat ini. 


Saya memang seorang freelancer sejak 5 tahun lalu, tapi saya…