Langsung ke konten utama

The Power of "Kapan Nyusul?"

Design by Canva


Hitam pekat masih menyelimuti suasana pagi ini. Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB.

"Selamat pagi Ibu, saya dari Taksi sudah menunggu di depan rumah Ibu ya." suara laki-laki paruh baya menyapa saya dibalik telepon.

"Oh iya Pak. Tunggu ya. 5 menit saya siap."

Secepat kilat aku merapihkan diri dan bersiap menuju taksi. Ya, pagi ini aku diberi amanah untuk menjadi Among Tamu pernikahan sepupuku. Meskipun tidak begitu akrab karena terpisah ruang dan waktu sedari kecil, namun aku cukup dekat dengan orang tuanya tak lain Bude dari keluarga Ibuku. 

Kantuk masih melanda tapi janji adalah hutang, harus aku penuhi. Di kepalaku mulai terpenuhi berbagai macam kecurigaan karena seakan menjadi budaya ketika keluarga ada yang nikah yaitu pertanyaan "Kapan Nyusul?"

Belum disusul pertanyaan-pertanyaan lain seperti soal pekerjaan hingga percintaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menemaniku menembus pagi. 

"Bu sudah sampai. Ini gedungnya." Sapa sopir taksi.

"Oh iya Pak." Tanpa ku sadari ternyata perjalanan sepanjang 30 menit terasa begitu cepat.

Aku berjalan menyusuri gedung. Kudapati beberapa orang sedang merapihkan dekorasi sebagian lainnya berkoordinasi. Bisa ku tebak mereka tim WO (wedding organizer). Aku diantar menuju ruang rias. Rupanya baru aku yang datang sampai tukang riasnya terkejut, betapa rajinnya aku hahaha..

Detik menit jam berlalu. Tiba saatnya seluruh anggota keluarga berkumpul, ada yang aku kenal ada yang tidak karena sedari kecil tidak dikenalkan dan sekarang sudah tidak ada Ibu yang bisa menjelaskan urutan silsilah keluarga. Kalau kata orang Jawa 'kepaten obor' (sudah tidak paham silsilahnya).

Satu per satu aku salami baik yang kenal maupun tidak. Tidak lama acara Akad nikah dimulai dengan khitmad. Alhamdulillah SAH. 

Dilanjutkan resepsi dan saat itulah aku bertugas. Pertanyaan "Kapan Nyusul?" mulai sayup-sayup terdengar di telinga. Aku mulai gusar. Pasti sebentar lagi pertanyaan itu ditunjukan ke aku. Benar saja, seorang Bude menyapa dan mulai menanyakan macam-macam. Dimulai dengan kalimat "Ya ampun udah lama gak ketemu yaa. Kerja dimana? Datang sama siapa?" Lalu tibalah "Kamu masih single kan? Terus kapan nyusul?"

Petir menyambar ditengah panas terik. Sebaliknya, panas terik menyapa ditengah dinginnya ruang AC di gedung. Aku harus jawab apa?

"Nyusul kemana Bude?" Jawabku bercanda

"Ih gitu deh sukanya." Jawab Bude

Aku mendadak jadi kreatif. Aku mencari pokok pembahasan lain sehingga mereka lupa akan pembicaraan ini.

Siang menjelang dan selesai sudah tugas serta drama kondangan keluarga ini. Alhamdulillah teriakku. Dengan seribu satu alasan aku pamit duluan.

Masuk taksi dan puuff lega.

Hingga saat ini saya masih bertanya-tanya, mengapa harus ada pertanyaan "Kapan Nyusul?" Sementara mereka lupa memikirkan perasaan yang sedang diberi pertanyaan tersebut. 

Bisa jadi hatinya tercabik-cabik, teriris-iris, sakiiitt. Apalagi yang habis putus di tengah jalan dengan kekasihnya. OMG gak kebayang deh..

Padahal balik lagi, masalah jodoh itu rahasia. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa untuk menemukannya. Kalau belum waktunya bertemu bagaimana lagi? Siapa yang bisa dituntut?

Seandainya pertanyaan itu dapat dihilangkan, mungkin para single-single akan bahagia saat kondangan apalagi kondangan keluarga. 

Alangkah lebih indah mendoakan daripada memberikan pertanyaan itu. Tanpa sadar aku telah sampai di rumah dan masih saja bertanya-tanya soal pertanyaan itu.

"Din, tiketmu sudah siap. Malang menunggumu." Pesan dari rekan sekantor yang mengabarkan tugasku sudah menunggu.

Bahagia sekali sambil menunggu hai kamu pasangan hidupku, aku bisa jalan-jalan sambil kerja, kerja sambil jalan-jalan. Hidup ini begitu indah. Tapi apapun yang terjadi aku berterimakasih karena telah diingatkan akan pertanyaan itu. 

Positifnya, aku tidak akan terlena dengan kebebasan masa single. Aku harus terus berjuang hingga kami saling menemukan. Semua tinggal persoalan waktu. Ya waktu.

Aahh seandainya aku bisa memutar waktu lebih cepat agar lebih cepat pula aku menemukanmu, maka hidupku tampak sempurna. Ya seandainya..

Anganku meninggi, tapi harus segera sadar kembali. Tugas di Malang sudah menunggu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja Bercerita Tentang

Senja kuakhiri dengan ucapan syukur karena ALLAH begitu banyak memberikan kenikmatan untukku.
Kulangkahkan kaki menyusuri jalanan basah setelah diguyur hujan, dan kusempat menghentikan langkah ketika melihat sebuah papan iklan berfotokan seorang laki-laki. Sepertinya aku mengenal laki-laki itu.
Sepersekian detik aku coba mengingatnya, dan ternyata itu kamu, teman baikku sejak 5 tahun lalu. Namun, kami putus komunikasi setelah aku memilih laki-laki lain menjadi kekasihku kala itu.
Terasa janggal memang, seketika dia berubah sikapnya saat aku berpacaran dengan Adi. Apa salahnya? Hingga detik ini pun aku tidak tahu alasan Reno menjauhiku bahkan terlihat membenciku. 5 tahun berlalu, sekarang dia sudah menjadi seorang aktor layar lebar.
Sesampainya di kamar, aku segera mengisi daya ponselku. Aku segerakan pula membersihkan badanku yang tersiram panas dan hujan. Selesai semua ritualku, aku mulai merebahkan tubuh pada kekasihku, ya tempat tidur kesayanganku. Perlahan kulepaskan semua letih dan …

Cegah Obesitas Dengan Pola Hidup Sehat

"Setengah dari porsi makanmu harus komposisi buah dan sayur." kata dr. Lily Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI yang selalu terngiang dalam telinga saya. Sejak itulah saya selalu berusaha menjalankannya setiap hari. Minimal konsumsi buah dan sayur menjadi menu wajib makan siang saya. Meskipun masih jauh dari ideal, namun saya berusaha mengubah pola hidup saya diawali dengan mengubah makanan yang saya makan.
Saya terlahir dari keluarga "besar" artinya gemuk-gemuk. Keluarga saya juga kompakan mengidap diabetes dan darah tinggi. Maka dari itu saya beresiko terkena penyakit tersebut. Salah satu penyebabnya karena berat badan yang berlebih akibat makan yang mungkin tidak terkontrol. Ditambah jarang berolahraga atau memang bawaan. Entahlah, yang jelas saya ingin mengubah pola hidup saya menjadi lebih sehat karena saya ingin menikmati hidup hingga 1000 tahun lamanya (maap lebay dikit hehe)
World Obesity Day p…

Membuka Jalan Rezeki Dengan Syukur

Belajarlah untuk percaya kepada-Ku. Rencana-Ku padamu lebih baik daripada rencanamu sendiri. Yakinlah bahwa Aku selalu baik. Yakinlah segala usahamu pasti sukses. Belajarlah untuk selalu bersyukur atas apa pun yang terjadi, Karena semua akan indah pada waktunya. (Aplikasi Pencari Rezeki – hal. 153)
Yap, saya sepakat dengan quote di atas yang saya kutip dari buku berjudul Aplikasi Pencari Rezeki karya Wusda Hetsa dan Achi TM yang baru selesai saya baca. Ketika seseorang yakin terhadap Allah SWT, maka semua urusan di dunia ini akan terasa ringan. Cobaan demi cobaan akan dilalui dengan suka cita karena Allah menjanjikan akan ada 2 kemudahan dibalik 1 kesulitan, dan saya sudah sering membuktikan hal itu.
Namun, kadar keyakinan (keimanan dalam Islam) bisa naik turun. Saya pun mengalaminya. Sebagai manusia biasa, tentunya saya pernah merasa apa yang diberikan Allah tidak sesuai dengan keinginan saya. Sedangkan saya lupa bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk umat-Nya, termasuk saya.
Buku…