Langsung ke konten utama

Cegah Obesitas Dengan Pola Hidup Sehat

Obesity NO.
(sumber : thedailystar.net)

"Setengah dari porsi makanmu harus komposisi buah dan sayur." kata dr. Lily Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI yang selalu terngiang dalam telinga saya. Sejak itulah saya selalu berusaha menjalankannya setiap hari. Minimal konsumsi buah dan sayur menjadi menu wajib makan siang saya. Meskipun masih jauh dari ideal, namun saya berusaha mengubah pola hidup saya diawali dengan mengubah makanan yang saya makan.

Saya terlahir dari keluarga "besar" artinya gemuk-gemuk. Keluarga saya juga kompakan mengidap diabetes dan darah tinggi. Maka dari itu saya beresiko terkena penyakit tersebut. Salah satu penyebabnya karena berat badan yang berlebih akibat makan yang mungkin tidak terkontrol. Ditambah jarang berolahraga atau memang bawaan. Entahlah, yang jelas saya ingin mengubah pola hidup saya menjadi lebih sehat karena saya ingin menikmati hidup hingga 1000 tahun lamanya (maap lebay dikit hehe)

World Obesity Day pada tahun 2017 ini mengangkat tema "Cegah Obesitas Melalui GERMAS.". Seperti yang kita ketahui bersama, GERMAS adalah program pemerintah untuk menuju Indonesia sehat. Mencegah berbagai macam penyakit dan pastinya berimbas pada kesejahteraan rakyat.



World Obesity Day - November 2017
(dok. Andini Harsono)


Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidak seimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu lama. Penyebab obesitas atau berat badan berlebih bisa dari faktor genetik (keturunan), faktor lingkungan dari pola makan dan pola aktivitas fisik, dan faktor obat-obatan serta hormonal. Banyaknya asupan makanan harus seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Kurang lebih mudahnya seperti itu. Artinya, kalau kurang aktivitas fisik tapi makannya banyak, maka akan terjadi penumpukan lemak.

Dampak Obesitas

Obesitas memiliki dampak negatif bagi kehidupan Anda, antara lain :

Dampak Metabolik, lingkar perut pada ukuran tertentu pada pria > 90 cm dan wanita < 80 cm akan berdampak pada peningkatan trigliserida dan penurunan kolesterol HDL, serta meningkatkan tekanan darah. Keadaan ini disebut dengan sindroma metabolik.

Dampak Penyakit, obesitas mengundang segudang penyakit yang diam-diam mengerogoti tubuh, seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, asam urat, batu empedu, gangguan menstruasi dan nyeri pinggang.

Penyakitnya kok serem semua ya.. -.-


World Obesity Day - November 2017
(dok. Andini Harsono)

Pada prinsipnya, pengelolaan obesitas harus bisa mengatur keseimbangan energi. Energi yang masuk harus lebih rendah dibandingkan dengan yang dibutuhkan. Harus seimbang. 

Anda Obesitas? Jangan Sedih

Untuk menanggulangi obesitas, Anda bisa menerapkan beberapa hal yang sepertinya mudah tapi sulit untuk dijalani. Tapi Anda harus melakukan itu supaya berat badan Anda kembali normal, dan berdampak pada bahagianya hidup Anda. 

Apa sih yang harus Anda lakukan?

Pertama, Anda harus mengubah gaya hidup Anda yang amburadul menjadi gaya hidup sehat. Pola makan itu yang utama. Atur pola makan dengan 3 kali makan utama dan 2 kali makan selingan. Makan utama terdiri dari jumlah sayur 2 kali lipat jumlah bahan makanan sumber karbohidrat (nasi, mie, roti, pasta, singkong, dll) dan jumlah bahan makanan sumber protein setara dengan jumlah bahan makanan sumber karbohidrat. Sayur atau buah minimal harus sama dengan jumlah karbohidrat ditambah protein. Kemudian makanan selingan buah-buahan berair tanpa dijus. Minumannya air putih atau teh tawar. Tambahkan juga susu rendah lemak tanpa gula 1 gelas setelah makan pagi sebagai suplemen kalsium.

Kedua, lakukan aktivitas fisik berjalan kaki dimulai 10 menit/hari, lalu ditingkatkan hingga 30 menit/hari. (Olahraga saya banget ini mah, *lol)

Ketiga, lakukan pemeriksaan di Puskesmas atau pelayanan kesehatan terdekat. Periksakan tekanan darah, gula darah, kolesterol dan asam urat.

Keempat, kalau Anda benar-benar obesitas dan sudah usaha sedemikian rupa tapi belum berhasil, jangan sungkan jangan ragu langsung konsultasi kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan terapi lebih lanjut. (Semangat Kakak..)

Sebenarnya itu berlaku buat saya juga. Sebagai anak kos harus pandai-pandai memilih makanan terlebih di kosan saya gak bisa masak jadilah harus ke Warteg. Ibu Warteg sekarang sudah hafal dengan menu saya yaitu nasi putih setengah atau nasi merah setengah, sayurnya 2 porsi (2 jenis), lauknya tanpa yang digoreng (kalaupun terpaksa digoreng, saya makan 1 jenis misalkan ikan goreng), serta buahnya selalu yang berair. Ketika saya mengubah menu seperti itu, komentarnya adalah "Nasinya dikit, lauknya dikit tapi sayur sama buahnya banyak banget Neng?" saya hanya senyum-senyum. Itu tandanya orang Indonesia masih banyak yang mengkonsumsi karbohidrat lebih banyak dari lainnya.

Saya juga termasuk orang yang malas olahraga, tapi ingat kata dokter bahwa olahraga gak harus datang ke gym atau lari 5K. Cukup dengan berjalan kaki, senam yang bisa dilihat tutorialnya dari Youtube, atau memanfaatkan kursi sebagai alat untuk menggerakkan kaki dan tangan. Semua itu bisa menjaga berat badan dan kebugaran asalkan dilakukan secara rutin. 

Jadi, menjaga keseimbangan hidup gak sulit kan? Pola makan yang benar, olahraga atau aktivitas fisik teratur, dan perhatikan kesehatan dengan rutin memeriksakan diri ke Puskesmas. Kalau raganya sehat pasti jiwanya juga sehat. Sehat badan akan memacu produktivitas baik sehingga semuanya urusan lancar. Kalau bukan dari diri Anda sendiri yang memulai siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeda

"Sampai kapan di Bangkok?" tanyamu pada chat WhatsApp.
Tak langsung aku membalasnya karena aku sedang menemui beberapa kolegaku.
"Hari Senin minggu depan. Kenapa?" balasku 2 jam kemudian yang berujung tak dibalas lagi olehnya.
Hari berganti hari, tak kunjung kutemui balasan darinya bahkan tak juga kulihat update di Instagram Story-nya atau posting-nya pada Instagram. Padahal dia termasuk laki-laki yang aktif berbagi cerita di dunia maya. Ya, dia lebih kekinian dibandingkan aku.
Senin menjelang tengah malam aku tiba di Jakarta. Aku sapa dia kembali mengabarkan bahwa aku sudah di Jakarta tapi gak juga ada balasannya. Bahkan untuk dibaca aja gak.
Dia menghilang.. Gak biasanya dia semenghilang ini. Tapi siapalah aku. Tak mungkin telepon terus menerus, kirim pesan terus menerus. Siapalah aku?
"Hai. Aku baik-baik aja. Semua akan berlalu. Ini adalah jeda dalam hidupku. Ini akan segera berlalu." pesan singkatnya masuk pada WhatsApp-ku yang diakhiri dengan emotic…

Ibu dan Generasi Emas Indonesia

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2017 ini mengambil tema “Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga.” dengan harapan setiap keluarga di Indonesia menjadi barisan terdepan dalam memberikan perlindungan kepada anak, baik dalam hal pendidikan hingga memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsinya.


Hal ini seiring sejalan dengan adanya program pemerintah menuju Generasi Emas 2045 dimana diperlukan awareness dari orang tua (terutama Ibu) terhadap putra-putrinya. Menurut dr. Eni Gustina, MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Indonesia, Kementerian Kesehatan RI pada acara Diskusi Publik Dalam Rangka Memperingati Hari Anak Nasional "Pemenuhan Hak Kesehatan Anak untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045." yang diselenggarakan oleh Yayasan Adhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) beberapa waktu lalu bahwa anak Indonesia memiliki permasalahan gizi yaitu gizi kurang, kurus, pendek, obesitas. Untuk itu, Kementerian Kesehatan memiliki prioritas pembangunan kesehatan yaitu pengurangan kekurangan…