Langsung ke konten utama

MARS : Sebuah Potret Pendidikan dan Perjuangan Seorang Ibu

Poster Film Mars
Gunung Kidul Yogyakarta, dijadikan latar cerita perjuangan seorang Ibu bernama Tupon untuk menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Memang dibeberapa daerah di Indonesia masih rendah kesadarannya untuk bersekolah. Kebanyakan dari mereka lebih memilih membantu orang tuanya bertani, berladang, berdagang atau merantau ke kota besar demi mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Masalah ini yang diangkat oleh Sahrul Gibran sutradara Film MARS yang dibintangi Kinaryosih sebagai Ibu Tupon, Acha Septriasa sebagai Sekar, M. Cholidi dan lain sebagainya. Film yang dirilis mulai tanggal 4 Mei 2016 yang bertepatan pada bulan pendidikan Nasional ini dibuka dengan adegan Sekar berpidato di tengah forum pada persidangan skripsinya di Oxford, London. Sekar menceritakan tentang perjuangan seorang Ibu yang gigih tanpa lelah untuk anaknya bisa sekolah. Air matanya mengalir ketika dia menceritakan Ibu Tupon yang tak lain adalah Ibunya. Alurnya mundur kemudian maju. Dengan menggambarkan kisah Sekar waktu pertama kali hendak sekolah yang tadinya dia tidak mau sekolah, cukup mewakili dilema orang tua yang tinggal di desa dengan serba keterbatasan.

Film ini lebih banyak menceritakan betapa keras dan tulusnya seorang Ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya, dalam hal ini pendidikan. Ibu Tupon yang buta aksara menginginkan Sekar menjadi anak yang pandai dengan pendidikan yang tinggi. Segala macam upaya rela dilakukannya untuk buah hatinya. Setiap adegan Ibu Tupon dalam berusaha membahagiakan dan memenuhi kebutuhan Sekar berhasil membuat saya menangis. Karena saya tahu betul, merasakan betul bagaimana tulusnya seorang Ibu mendidik, membesarkan dan menyayangi anaknya. Kesetiaan Ibu juga tidak usah diragukan lagi.

Sayangnya, ada beberapa adegan yang kurang masuk akal. Misalnya ketika Sekar sudah besar dan melanjutkan sekolah hingga ke London masa tidak bisa memberi kabar atau berkomunikasi dengan Ibunya di desa. Sehingga ketika Ibunya meninggal, Sekar tidak tahu. Lalu hal yang paling mengganggu penglihatan saya adalah Sekar besar yang diperankan Acha tidak pas menggunakan kerudungnya. Ada yang miring hingga terlihat rambutnya. Seharusnya bisa lebih diperhatikan lagi dalam menggunakan kerudung/hijabnya.

Namun MARS dapat memberikan inspirasi untuk kita bisa terus belajar dan memiliki pendidikan tinggi. Film ini juga mengingatkan kita akan kasih sayang dan perjuangan Ibu. Ketika menonton film ini bersama sahabat Tau Dari Blogger lainnya, rasanya ingin sekali memeluk Ibu saya dan mengatakan terima kasih. Tapi apa daya. Hanya doa yang kini bisa saya lakukan untuk membawa Ibu saya menjadi penghuni surga yang kekal. Sudahkah Anda mengucapkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak?


Semoga melalui film MARS ini, kita bisa menjadi termotivasi untuk melanjutkan pendidikan, terus belajar hal-hal baru, tetap yakin dan percaya adanya kekuasaan Allah yang dapat mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan lebih menghormati dan menyayangi orang tua terutama Ibu. Salam hormat dan sayang saya bagi seluruh Ibu di dunia ini. 

Bersama Sahabat Tau Dari Blogger (dok. Bunda Elisa Koraag)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisnis Indonesia Financial Award 2018 Apresiasi Industri Keuangan

Bicara soal bisnis harus memiliki strategi yang kuat agar bisnisnya selalu bergerak stabil di tengah persaingan begitu ketatnya sekarang ini. 
Kalangan bisnis wajib hukumnya untuk mencari informasi perkembangan bisnis yang up to date. Harian Bisnis Indonesia masih menjadi sumber terpercaya bagi para pengusaha dan perusahaan terutama di kalangan industri keuangan yaitu perbankan, asuransi dan multifinance. 
Kepercayaan perusahaan terhadap Bisnis Indonesia  diapresiasi melalui Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA) 2018 yang dilaksanakan tanggal 27 Agustus lalu di Hotel Raffles, Jakarta. 
Acara yang dihadiri oleh para CEO dan direksi perusahaan yang menjadi pelanggan setia Bisnis Indonesia berlangsung meriah. Penghargaan ini menjadi motivasi perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan kinerja. 

Hariyadi Sukamdani - Presiden Komisaris PT Jurnalindo Aksara Grafika Penerbit Bisnis Indonesia menuturkan BIFA 2018 diselenggarakan untuk mengapresiasi industri keuangan yang menjalankan usahanya …

Ingin Punya Bisnis? Segera Lakukan

"Going into business without a business plan is like going on a mountain trek without a map or GPS support - you'll eventually get lost and starve." - Kevin J. Donaldson
Bisnis tanpa rencana bagaikan bepergian tanpa arah dan persiapan. Resikonya tentu tersesat dan pada akhirnya tidak sampai pada tujuan. Bisnis bagaikan roda kehidupan yang terus berputar seiring perputaran waktu yang kian hari kian cepat. Maka dari itu, kalau kita sedang menjalankan bisnis harus benar-benar terencana dan memiliki strategi kuat. 
Kamis, 20 September 2018 lalu saya berkesempatan hadir menjadi bagian Women Talk bersama Futri Zulya S.Mn, M. Bus dengan tema "How to Start Your Business" di Kemang, Jakarta Selatan. CEO PT Batin Medika Indonesia ini menuturkan perjalanan menjalankan bisnisnya setelah selesai kuliah. Dengan rencana dan strategi yang kuat, Futri berhasil menjalankan bisnisnya hingga berkembang sampai saat ini. 


Saya memang seorang freelancer sejak 5 tahun lalu, tapi saya…

Co-Learning : Gaya Belajar Kekinian di Step Up Learning Hub

Co-learning, istilah ini kami sematkan saat menginjakkan kaki pertama kali ke Step Up yang berlokasi di Jalan Pahlawan Seribu 100C, Lt. 1, BSD, Tangerang Selatan ini. Ya, saya dan beberapa rekan blogger berkesempatan untuk silaturahmi dan mengenal lebih dekat apa sih Step Up itu?
Berbeda dengan bimbingan belajar lainnya, Step Up Learning Hub mengusung gaya kekinian dalam belajar bagi para pelajar zaman now. Tempat lesnya didesain sedemikian cantiknya mirip dengan gaya co-working bagi freelancer yang sedang menjamur sekarang ini. Harapannya, murid-murid yang belajar di sini betah dan merasa belajar di rumah.
Dengan didampingi para pengajar profesional terakreditasi, Step Up memberi solusi bagi orang tua yang galau ketika anak-anaknya lebih sibuk daripadanya dengan tugas sekolah yang semakin ke sini semakin banyak. Di era digital, tugas sekolah bukan hanya sekedar menjawab pertanyaan pada PR namun ada penelitian hingga menyusun makalah. Tugas mereka pun tidak jarang yang harus dikerjakan …