Langsung ke konten utama

Kerinduan Pada Re: Sore Ini

Sejak bertemu dengan buku Re: bulan Mei tahun ini, sugestiku terhadap Re: makin terasa. Rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya dialami oleh Re: secara lengkap dan detail begitu besar. Bahkan tak jarang aku membayangkan seakan - akan aku hidup pada masanya dan berkenalan lalu berteman dengannya, apa yang akan terjadi?

Cinta yang begitu tulus diberikan oleh Herman kepada Re: entah apa yang membuat Herman jatuh cinta pada Re;. Rasa simpati kah? Rasa salut kah? Rasa hormat kah? Rasa kasian kah? atau memang karena cinta yang tidak pernah bisa dijabarkan dengan kata - kata. Bahkan terkadang nalar kita tidak berfungsi ketika seseorang merasakan jatuh cinta. Rasa cinta diantara keduanya membuat mereka saling menguatkan satu sama lain. Hingga pada waktunya cinta mereka damai bersama jasad yang terkubur dengan tenang.

Bagiku, Re: adalah sosok wanita yang kuat dalam menghadapi hidupnya. Dengan menjadi pelacur lesbian, dia tidak pernah patah semangat dalam berjalan menghabiskan waktu di dunia ini. Dari hasil keringatnya yang bagi sebagian orang keringat dosa dan menjijikan, dia sisihkan untuk buah hatinya. Buah hati yang entah dari laki - laki mana datangnya, entah siapa yang menanamkan benih di rahimnya, buah hati yang dianggapnya adalah anugrah yang terindah yang Tuhan berikan untuknya sebagai bukti kasih sayang Tuhan kepadanya. Dia anggap buah hatinya terlalu suci untuk dia jamah. Sehingga sepanjang hidupnya dia tidak pernah sama sekali menyentuhnya karena baginya keringatnya terlalu kotor untuk menyentuh kulit anaknya. Melalui Hermanlah dia titipkan kasih sayangnya, dia salurkan kerinduan kepada anaknya.

Sore ini, aku terdiam sendiri di depan laptop dan tiba - tiba aku rindu kepada Re:, ya kisah Re: yang penuh dengan misteri. Re: seakan begitu dekat di hidungku dan menyentuhku dengan kata demi kata surat yang dia tulis untuk Herman.Ya aku ingat itu semua. Bagian yang paling aku ingat adalah ketika dia mempersiapkan diri untuk "Tetirah". Bahwa setiap manusia akan ada pada titik dimana dia merasa lelah, merasa bosan, merasa putus asa, hingga dia mengatakan, "cukup" atau "hentikan". Disaat itulah kita ada dalam peristirahatan yang tenang. Tentunya hal ini atas persetujuan Tuhan Sang Pencipta.

Dan kerinduanku padamu Re:, membawaku untuk melantunkan sebait doa untukmu. Semoga kau bahagia disana. Doaku tidak akan berhenti pada saat ini saja, namun dikala rindu ini menguasai hati dan pikiran, aku akan mengingatmu sebagai wanita penuh cinta dan rela berkorban demi yang dicintainya. Doa dan rinduku bukan hanya sore ini saja, Re:.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja Bercerita Tentang

Senja kuakhiri dengan ucapan syukur karena ALLAH begitu banyak memberikan kenikmatan untukku.
Kulangkahkan kaki menyusuri jalanan basah setelah diguyur hujan, dan kusempat menghentikan langkah ketika melihat sebuah papan iklan berfotokan seorang laki-laki. Sepertinya aku mengenal laki-laki itu.
Sepersekian detik aku coba mengingatnya, dan ternyata itu kamu, teman baikku sejak 5 tahun lalu. Namun, kami putus komunikasi setelah aku memilih laki-laki lain menjadi kekasihku kala itu.
Terasa janggal memang, seketika dia berubah sikapnya saat aku berpacaran dengan Adi. Apa salahnya? Hingga detik ini pun aku tidak tahu alasan Reno menjauhiku bahkan terlihat membenciku. 5 tahun berlalu, sekarang dia sudah menjadi seorang aktor layar lebar.
Sesampainya di kamar, aku segera mengisi daya ponselku. Aku segerakan pula membersihkan badanku yang tersiram panas dan hujan. Selesai semua ritualku, aku mulai merebahkan tubuh pada kekasihku, ya tempat tidur kesayanganku. Perlahan kulepaskan semua letih dan …

Pertemuan Singkat

Mengenalmu adalah kebangkitan bagiku Mengenalmu adalah semangat baru bagiku
Panas terik Ibukota membuat aku memutuskan untuk berteduh di sebuah coffee shop tersohor di bilangan Sarinah. Sejak kecil aku memang kalah dengan panas matahari yang terlampau terik. Pasti kepalaku langsung keliyengan.
Sembari membuka laptop, aku menikmati segelas es cokelat dan sepotong kue keju. Setiap mampir ke coffee shop, aku jarang memesan kopi. Ya memang aku sesungguhnya bukan coffee lovers hehe..Jadi ya nikmati minuman yang lainnya aja.
Seperti biasanya, tempat ini ramai dikunjungi orang-orang pecinta kopi plus nongkrong. Karena tempatnya strategis jadi mereka sering menjadikan tempat ini lokasi meeting, nongkrong-nongkrong atau kerja seperti aku. Jaman sudah canggih ada beberapa pekerjaan yang bisa dikerjakan dimana aja dan kapan aja.
“Eh eh sebentar lagi Reno mau datang. Katanya dia sudah dekat.” ucap perempuan A salah satu anggota rombongan sekitar 20 orang atau lebih yang memblock hampir setengah coff…

Jeda

"Sampai kapan di Bangkok?" tanyamu pada chat WhatsApp.
Tak langsung aku membalasnya karena aku sedang menemui beberapa kolegaku.
"Hari Senin minggu depan. Kenapa?" balasku 2 jam kemudian yang berujung tak dibalas lagi olehnya.
Hari berganti hari, tak kunjung kutemui balasan darinya bahkan tak juga kulihat update di Instagram Story-nya atau posting-nya pada Instagram. Padahal dia termasuk laki-laki yang aktif berbagi cerita di dunia maya. Ya, dia lebih kekinian dibandingkan aku.
Senin menjelang tengah malam aku tiba di Jakarta. Aku sapa dia kembali mengabarkan bahwa aku sudah di Jakarta tapi gak juga ada balasannya. Bahkan untuk dibaca aja gak.
Dia menghilang.. Gak biasanya dia semenghilang ini. Tapi siapalah aku. Tak mungkin telepon terus menerus, kirim pesan terus menerus. Siapalah aku?
"Hai. Aku baik-baik aja. Semua akan berlalu. Ini adalah jeda dalam hidupku. Ini akan segera berlalu." pesan singkatnya masuk pada WhatsApp-ku yang diakhiri dengan emotic…